DBD Renggut Nyawa 2 Anak Sragen

Ilustrasi Nyamuk (Solopos - Whisnupaksa)
03 Januari 2019 18:15 WIB Tri Rahayu Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN -- Dua anak-anak asal Desa Duyungan, Kecamatan Sidoharjo, dan Desa Jekawal, Kecamatan Tangen, Sragen, meninggal dunia karena terkena demam berdarah dengue (DBD) pada Desember 2018 lalu. Kedua anak tersebut meninggal karena mengalami dengue shock syndrome (DSS).

Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Sragen, Fanni Fandani, mengungkapkan anak yang meninggal karena DBD itu terdiri atas R, 13, warga Jekawal, yang didiagnosis DSS dan meninggal di salah satu RS di Solo pada 17 Desember 2018 pukul 23.00 WIB. Anak lainnya, N, 5, asal Duyungan, Sidoharjo, dengan diagnosis DSS, dan meninggal di RS Solo pada 24 Desember 2018 pukul 01.00 WIB.

Meninggalnya dua anak karena DBD tersebut menjadi catatan Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati. Yuni menilai kematian akibat kasus DBD itu karena petugas kesehatan terlena dalam pencegahan DBD.

“Saya mendapat laporan ada dua anak yang meninggal karena DBD. Saya minta kegiatan 3M [mengubur, menguras, menutup] digalakkan kembali, pahlawan jentik juga harus dioptimalkan lagi,” ujar Bupati kepada para petugas kesehatan di Puskesmas Gondang, Sragen, Kamis (3/1/2018).

Yuni menjelaskan dua anak itu meninggal di rumah sakit Solo. Dia menilai tidak ada yang bisa dilakukan setelah kasus itu terjadi kecuali bersih-bersih lingkungan supaya tidak muncul kasus baru. Dia menekankan kepada puskesmas untuk mengedepankan akses promotif dan preventif daripada kuratif.

“Kurangnya kebersihan lingkungan itulah penyebab munculnya penyakit. Jika lima pilar sanitasi berbasis masyarakat itu bisa terealisasi, angka kesakitan otomatis turun,” ujarnya.