Sengketa Belum Kelar, Belasan Kios Pasar Babadan Klaten Dibongkar

Ekskavator dikerahkan keluarga Slamet Siswosuharjo, warga yang selama ini mengklaim sebagai pemilik sah tanah Pasar Babadan, membongkar kios di pasar setempat, Kamis (3/1/2019). (Solopos - Taufiq Sidik Prakoso)
03 Januari 2019 22:15 WIB Taufik Sidik Prakoso Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN -- Belasan kios Pasar Babadan, Desa Teloyo, Kecamatan Wonosari, Klaten, dibongkar, Kamis (3/1/2018). Pembongkaran dilakukan keluarga Slamet Siswosuharjo yang selama ini mengklaim sebagai pemilik sah lahan Pasar Babadan.

Berdasarkan pantauan Solopos.com, ada sekitar 17 kios yang dibongkar menggunakan satu ekskavator hingga Kamis sore. Proses pembongkaran diawasi sekelompok pria yang menyebar di sekitar pasar.

Beberapa di antara mereka mengingatkan agar pedagang menjauh dari kios setelah sebagian dirontokkan menggunakan ekskavator. Aparat berseragam TNI dan polisi juga terlihat di sekitar lokasi saat proses pembongkaran dilakukan.

Sementara pedagang hanya bisa pasrah melihat kios yang selama ini mereka tempati untuk berjualan dibongkar dan mulai rata dengan tanah. Sebagian dari mereka berusaha mengambil barang-barang yang masih tersimpan di dalam kios untuk dibawa pulang atau dipindahkan ke pasar darurat.

Sebagai informasi, pedagang tak bisa berjualan dan terpaksa pindah lokasi berjualan setelah Pasar Babadan dipagari bambu oleh keluarga Slamet Siswosuharjo pada Juli 2018 lalu.

Belakangan, pedagang berjualan di kios darurat yang dibangun di lahan Subterminal Wonosari seberang Pasar Babadan. Salah satu pedagang, Katun, 40, mengaku baru mengetahui rencana pembongkaran kios pasar itu pada Kamis pagi.

Ia lantas secepatnya mengambil barang-barang yang masih ada di dalam kios. Katun mengatakan ia berjualan buah di salah satu kios Pasar Babadan setelah mewarisi kios tersebut dari orang tuanya.

Selama ini, ia dan keluarganya juga tinggal di kios pasar tersebut. Saat pasar dipagari, ia memilih bertahan tinggal di kios meski akses masuk tertutup bambu.

“Sampai memanjat juga. Saya baru mengontrak rumah sekitar sebulan ini,” kata Katun saat ditemui Solopos.com, Kamis sore.

Terkait pembongkaran kios yang 40 tahun terakhir ditempati keluarganya, Katun hanya bisa pasrah. Ia juga menjelaskan selama ini sudah menempati salah satu lapak pasar darurat untuk menggelar dagangannya. “Saya pasrah saja. Insya Allah ada jalan terbaik,” kata Katun.

Pedagang lainnya juga mengaku baru mengetahui kepastian rencana pembongkaran pasar oleh warga yang mengklaim pemilik lahan tersebut pada Kamis pagi.

“Awalnya kami tidak tahu apa-apa. Tidak diberi tahu akan ada rencana pembongkaran. Memang sebelumnya ada kabar dari mulut ke mulut kalau kios mau dibongkar. Tetapi saya tidak bisa menanggapi serius karena belum ada bukti tertulisnya,” kata salah satu pedagang yang enggan menyebutkan namanya tersebut.

Sementara itu, Kepala Desa Teloyo, Soedarto, mengatakan sebelumnya ada surat yang diterima pemerintah desa dari keluarga Slamet Siswosuharjo tertanggal 31 Desember 2018. Surat itu berisi pemberitahuan pembongkaran dan pengosongan bangunan Pasar Babadan.

Soedarto mengatakan semestinya proses pembongkaran tersebut tak dilakukan. Polemik Pasar Babadan semestinya dirampungkan melalui proses hukum.

“Kami tetap berpedoman untuk menyerahkan ke kuasa hukum. Ada aturannya ketika sengketa tanah itu diselesaikan lewat jalur hukum,” kata Soedarto saat ditemui di sela pembongkaran bangunan pasar.

Anak Slamet Siswosuharjo, Mularsih, membenarkan pembongkaran dilakukan keluarganya. Sebelum pembongkaran kios dilakukan, surat sudah dilayangkan ke kepala desa yang juga dilayangkan ke Camat, Bupati, Kapolres, serta Dandim.

“Sebenarnya di sana [pasar] sudah kosong semua. Barang-barang juga sudah kosong. Tinggal bangunan saja,” kata Mularsih saat dihubungi Solopos.com, Kamis malam.

Mularsih menuturkan keluarganya merupakan pemilik sah atas lahan seluas 2.500 meter persegi di Pasar Babadan. Pembongkaran bangunan kios menjadi pilihan terakhir.

“Kami sudah berupaya meminta keadilan ke kelurahan [pemerintah desa] hingga kabupaten tetapi tidak pernah ditanggapi,” tutur dia.

Mularsih menjelaskan tak seluruh bangunan di atas tanah milik keluarganya dibongkar. Pembongkaran dilakukan hanya pada bagian depan atau deretan kios yang berjumlah sekitar 17 unit.

“Kami tidak membongkar semuanya. Kami masih toleransi juga. Kami bongkar bagian depan saja. Untuk tengah [bangunan los] masih. Kami sebenarnya ingin damai, kalau misalnya dibeli ya ayo. Tetapi tidak pernah ditanggapi,” urai dia.

Soal sekelompok pria di sekitar pasar, Mularsih menuturkan mereka membantu proses pembongkaran. “Iya, hanya untuk membantu pembongkaran dan membantu pedagang yang akan mengambil barang-barang mereka,” katanya.