Kawal Ambulans di Solo Biar Tak Terjebak Macet Malah Dimarahi Pengendara Motor

Ilustrasi Iring-iringan ambulans membawa jenazah korban kecelakaan, Minggu (14/10/2018). - Dok (Solopos/Akhmad Ludiyanto)
04 Januari 2019 10:00 WIB Mariyana Ricky Prihatina Dewi Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Sirene ambulans meraung-raung membelah jalanan Kota Solo, beberapa waktu lalu. Ambulans salah satu rumah sakit negeri itu dikawal empat pengendara sepeda motor berjaket dengan tulisan R.E.A.D. Tiga pengendara memimpin di depan, sementara yang satu menyusul di belakang ambulans.

Laju rombongan itu cepat. Sayangnya, lalu lintas sedang padat. Tepat di simpang Purwosari, Laweyan, ambulans melambat. Penumpukan kendaraan menghentikan mereka. Padahal ambulans membawa pasien yang harus segera mendapat pertolongan medis. Apa daya, lalu lintas macet. Ambulans dan tim READ tidak bias menembus kendaraan-kendaraan di depan.

READ adalah komunitas sukarelawan pengawal ambulans dan mobil damkar. Mereka bertugas mengawal dan membuka jalan agar dua jenis kendaraan itu tidak mengalami kemacetan dan terlibat tabrakan.

“Macet lama sekali, tidak bergerak. Tidak ada pengguna jalan yang mengalah, atau setidaknya mau membuka jalur. Tak ada yang peduli bunyi sirene. Lama menunggu, pasien di dalam ambulans enggak tertolong. Akhirnya, meninggal sebelum sampai rumah sakit,” tutur Ketua READ Solo, Adimas Surya Sanjaya, saat berbincang dengan Solopos.com, Senin (31/12/2018).

Pria berusia 25 tahun itu mengatakan meninggalnya pasien dalam perjalanan adalah pengalaman sedih tak terlupakan. Kasus seperti itu kerap terjadi. Kesadaran pengguna jalan yang minim jadi penyebabnya.

“Ambulans adalah salah satu kendaraan yang memiliki prioritas untuk diutamakan di jalan tapi masih banyak yang minim empati. Aturannya saat di traffic light, pengendara yang mendengar bunyi sirene bisa berjalan maju perlahan atau membuka jalan untuk ambulans. Berikan klakson atau aba-aba agar pengendara lain mendengar dan berhenti apabila melintas dari jalur lain. Sesudah itu biarkan ambulans melaju. Tapi yang sering terjadi, empati pengguna jalan tipis. Kurang ada rasa manusiawi,” kata warga Donohudan, Ngemplak, Boyolali, itu. 

Pengemudi ambulans RS Karima Utama Kartasura, Sukoharjo, Nanang Choeroni, mengakui hal tersebut. Kendati saat ini empati pengguna jalan mulai muncul namun ia pernah mengalami kejadian buruk saat membawa pasien kritis.

“Kejadian sebelum ada sukarelawan escorting. Ada pasien dengan tingkat kesadaran tujuh yang akan dirujuk ke RSUD dr. Moewardi yang jalurnya selalu padat. Pengguna jalan enggak ada yang mau meminggir. Malah seenaknya sendiri, sampai pintu depan digebrak oleh pengendara sepeda motor. Lalu saya buka kaca dan menegur dia, serta mengingatkan. Tetap saja sampai rumah sakit, pasien masuk Instalasi Gawat Darurat (IGD) dan dinyatakan koma. Saya sedih sekali. Andai pengguna jalan punya kesadaran,” kata pria berusia 29 tahun itu.