Walah, Penumpang Cuma Mau Naik Bus yang Lewat Tol

Bus menunggu penumpang di Terminal Tirtonadi, Solo, Kamis (3/1/2019). Tol memengaruhi preferensi penumpang bus - Solopos/M.Ferry Setiawan
04 Januari 2019 15:35 WIB Bayu Jatmiko Adi Solo Share :

Solopos.com, SOLO — Tol Trans-Jawa membawa perubahan pada berbagai sektor bisnis. Salah satunya bus umum. Sekarang ini beberapa penumpang hanya mau naik bus yang melintasi tol. Ini bisa menjadi modal pengusaha bus untuk memulihkan bisnis mereka.

"Pernah ada calon penumpang yang saat mau naik [bus] tanya dulu busnya lewat tol atau tidak. Kalau tidak lewat tol, tidak jadi naik. Sebab waktunya lebih cepat lewat tol," cerita Ketua Organisasi Angkatan Darat (Organda) Solo, Joko Suprapto, saat diwawancarai Solopos.com, Kamis (3/1/2019).

Perubahan preferensi konsumen itu juga berdampak terhadap rute bus. Demi lewat tol dan menghemat waktu, mereka memilih tidak masuk ke pusat kota sejumlah kota/kabupaten di sepanjang jalur tol. Misalnya bus Solo ke Surabaya memilih tidak lewat Sragen.

Joko mengatakan beberapa kalangan mempersoalkan tarif tol yang dinilai mahal. Sebagai contoh, tarif tol Solo-Ngawi sekitar Rp90.000. Namun, dia menilai nilai tarif itu sebanding dengan biaya operasional yang harus dikeluarkan perusahaan otobus jika tidak melewati tol.

"Jalan tol memang bayar, tapi kompensasinya tol juga bis meringankan biaya. Waktu tempuh pendek, jaraknya juga pendek sehingga kebutuhan solarnya turun, penggunaan rem juga kurang," ungkap dia. Dengan demikian, uang untuk membayar tarif tol sebanding dengan biaya operasional melalui jalan di luar tol.

Memurut Joko, keberadaan tol bisa lebih menarik banyak penumpang untuk menggunakan jasa transportasi bus umum. Namun, untuk saat ini dirinya belum merasakan dampak tol secara signifikan. Pada momentum libur Natal dan Tahun Baru 2019 jumlah penumpang tidak terpaut jauh dengan jumlah penumpang pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Hal itu karena masih banyak masyarakat yang menggunakan kendaraan pribadi. "Mungkin juga liburnya tidak bersamaan," kata dia. Joko optimistis bisnis transportasi umum akan lebih baik pada 2019.