Peralatan Makan Tak Higienis Bikin 39 Warga Wonogiri Keracunan

Salah satu korban dugaan keracunan malam Tahun Baru, Ervan Alfantio, 13, dirawat di Ruang Cempaka RSUD Wonogiri, Kamis (3/1/2019). (Solopos - Rudi Hartono)
04 Januari 2019 17:15 WIB Rudi Hartono Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI -- Dinas Kesehatan (Dinkes) Wonogiri menduga penyebab gejala keracunan yang dialami 39 warga RT 001/RW 002, Kedunggupit, Sidoharjo, Wonogiri, seusai menyantap hidangan malam Tahun Baru, Rabu (2/1/2019), karena peralatan makan yang tidak higienis.

Air untuk mencuci peralatan makan yang dipakai pada acara tersebut berasal dari tandon atau tempat penyimpanan air yang sudah lama tak digunakan. Hal itu memungkinkan berkembangnya bakteri yang kemudian masuk ke dalam tubuh lewat makanan yang terkontaminasi air sehingga mengakibatkan reaksi klinis seperti orang keracunan.

Seperti diketahui, sekitar 39 orang sakit setelah makan ikan nila dan ayam bakar bakar saat perayaan malam pergantian tahun. Mereka makan bersama pada Senin (31/12/2018) pukul 23.00 WIB dan merasakan gejala seperti keracunan malam berikutnya.

Kepala Dinkes Wonogiri, Adhi Dharma, kepada Solopos.com, Jumat (4/1/2019), mengatakan berdasarkan hasil survei tim surveilans atas kasus warga Menger, terungkap fakta piring dan gelas yang dipakai dicuci menggunakan air tampungan tandon yang sudah lama tak digunakan.

Tandon itu berada di rumah tak berpenghuni milik warga perantau yang digunakan sebagai tempat digelarnya acara makan bersama. Piring digunakan untuk menyajikan ikan nila dan ayam bakar sedangkan gelas sebagai tempat minuman bersoda.

Sementara nasi dan makanan lainnya disajikan menggunakan daun pisang (kembulan). Atas hal itu patut diduga makanan yang disantap warga telah terkontaminasi bakteri dari air tandon yang terdapat di piring dan gelas.

“Ini baru praduga. Penyebab pastinya menunggu hasil pemeriksaan laboratorium. Intinya, proses pemilihan bahan makanan, pengolahan, proses memasak, dan penyajian harus diperhatikan. Bahan makanan harus layak konsumsi. Pencucian sebaiknya menggunakan air baru yang mengalir,” kata Adhi.

Dugaan Adhi diperkuat keterangan karang taruna pelaksana acara makan bersama di Menger. Anggota karang taruna, Nanang Kurniawan, 29, membenarkan piring dan gelas dicuci menggunakan air tandon yang sudah lama tak digunakan.

Bahkan, piring dan gelas dicuci dua kali. Proses pertama piring dan gelas dicuci setelah digunakan untuk makan mi instan dan minum kopi. Mi instan dan minuman kopi disajikan, Senin siang, untuk konsumsi anggota karang taruna ketika mempersiapkan acara perayaan malam pergantian tahun.

Setelah itu piring dan gelas dicuci lagi agar bisa digunakan saat acara inti digelar. “Bukan hanya piring dan gelas, tapi ikan nila dan daging ayam juga dicuci pakai air tandon. Tapi yang jelas ikan nila dan daging ayam yang kami masak masih segar. Ikan nilanya bahkan sebelum dimasak masih hidup,” ulas Nanang.

Dugaan penyebab keracunan massal karena bakteri dari air tandon diperkuat Warto, 60, warga setempat. Waktu itu dia bersama belasan warga lain yang makan ayam bakar di tempat lain tidak keracunan.

Padahal, daging ayam yang dimakannya dan yang dimakan para anggota karang taruna berasal dari sumber sama, yakni pemberian perantau sukses yang sedang pulang kampung.