Ibu Buang Bayi di Slogohimo Wonogiri Alami Tekanan Psikologis

Warga bersama polisi mengecek lokasi temuan bayi di tepi saluran irigasi di Slogohimo, Wonogiri, Minggu (30/12/2018). (Istimewa - Humas Polres Wonogiri)
04 Januari 2019 18:15 WIB Rudi Hartono Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI -- Novi Kusuma Ningrum, 21, berjanji merawat bayinya yang sebelumnya dia buang di tepi saluran irigasi tak jauh dari rumahnya di Dusun Butuh RT 001/RW 001, Desa Waru, Slogohimo, Wonogiri, Minggu (30/12/2018). Dia sangat menyesal telah membuang bayinya itu.

Kasatreskrim Polres Wonogiri, AKP Aditia Mulya Ramdhani, kepada Solopos.com, Jumat (4/1/2019), menyampaikan penyesalan itu disampaikan Novi saat dimintai keterangan beberapa waktu lalu.

Menurut Aditia, Novi membuang bayinya yang baru lahir karena kondisi psikologisnya sangat tak stabil. Hal itu karena dia mengalami suatu sindrom. Dia merasa ketakutan menjelang melahirkan.

Alhasil, dia tidak bisa berpikir logis atau rasional hingga akhirnya bertindak di luar akal sehat. Dalam kondisi itu dia memutuskan melahirkan secara mandiri di tepi saluran irigasi areal persawahan dekat jalan pertanian.

Novi melakukannya setelah terjadi kontraksi. Saat itu dia melahirkan sambil menggendong anaknya yang masih berusia satu tahun. Aditia menilai tindakan itu tak akan mungkin dilakukan seorang ibu yang kondisi psikologisnya normal.

Kondisi kebatinan itu tak terlepas dari adanya tekanan psikologis yang timbul dari kondisi ekonomi yang memprihatinkan. Aditia menyebut Novi dan suaminya merupakan keluarga kecil yang miskin.

Saat disinggung sumber tekanan psikologis yang didapat Novi, dia tak dapat menyampaikannya secara detail. Sedangkan mengenai sang bayi, Aditia mengatakan saat ini anak Novi itu masih dirawat di rumah sakit.

“Bayi masih dirawat di RS karena masih perlu dirawat lebih lanjut. Kalau ibunya sudah pulang ke rumah. Dia tinggal bersama neneknya,” ucap Aditia mewakili Kapolres Wonogiri, AKBP Uri Nartanti Istiwidayati.

Dia melanjutkan meski sudah diketahui pelakunya, polisi sampai sekarang masih menyelidiki. Menurut dia penanganan perkara ini perlu mempertimbangkan banyak hal, seperti keberlangsungan hidup anak pertama, bayi yang baru dilahirkan, dan kemanfaatan hukum.

Menurut dia, pada prinsipnya penegakan hukum harus bermanfaat. Apabila justru lebih banyak mudaratnya, dapat dikatakan penegakan hukum tak berhasil. Pada kasus ini, polisi tetap memeriksa Novi tetapi dengan hati-hati.

Hal itu agar tak semakin membuat kondisi psikologisnya memburuk. Sebaliknya, polisi terus memberinya motivasi agar terus semangat dan ke depan bisa merawat bayinya dengan baik.

“Kelanjutan proses hukum akan ditentukan dalam gelar perkara,” imbuh Aditia.

Kapolsek Slogohimo, AKP Kukuh Wiyono, sebelumnya menginformasikan Novi sudah bersuami. Suaminya bekerja di luar Wonogiri. Saat kejadian suaminya sedang bekerja.

Novi melahirkan saat usia kandungannya delapan bulan. Dia membuang bayinya tanpa sepengetahuan suaminya.