RSUD dr. Moewardi Solo Menuju Rumah Sakit Tanpa Dinding

Sejumlah pegawai RSUD dr. Moewardi Solo mengikuti jalan sehat HUT ke-69 rumah sakit tersebut, Sabtu (5/1 - 2019). (Istimewa)
06 Januari 2019 15:15 WIB Mariyana Ricky Prihatina Dewi Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Moewardi Solo berkomitmen mewujudkan program rumah sakit tanpa dinding yang diwacanakan Gubernur dan Wakil Gubernur Ganjar Pranowo-Taj Yasin.

Penanggungjawab Direktur RSUD dr. Suharto Wijanarko mengatakan program tersebut bertujuan memaksimalkan peran rumah sakit tak hanya sebagai rujukan kesehatan, melainkan juga pusat edukasi kesehatan bagi masyarakat dan pengembangan penelitian tenaga ahli.

“Rumah sakit tidak sekadar mengobati orang sakit, tapi juga bisa mencegah penyebaran penyakit. Baik penyakit menular atau penyakit tidak menular,” kata dia, saat memberikan sambutan dalam Puncak HUT ke-69 RSUD dr. Moewardi di halaman gedung setempat, Sabtu (5/1/2019) pagi.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Jawa Tengah, dr. Yulianto Prabowo, mengatakan rumah sakit tanpa dinding adalah kiasan yang artinya tidak ada sekat. Rumah sakit diharapkan mampu melakukan upaya kesehatan yang bersifat promotif, preventif mencegah agar masyarakat tidak sakit.

“Peran rumah sakit lebih dimaksimalkan tidak hanya mengobati tapi juga jemput bola memberi edukasi kesehatan kepada masyarakat,” kata dia.

Dalam waktu dekat, Dinkes Jateng bakal menyusun berbagai indikator dan target untuk mewujudkan program tersebut. Salah satunya menilik rencana pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD) kesehatan yang di dalamnya ada 50 poin.

“Target harus jelas dan bisa diukur dengan angka. Oleh karena itu harus segera dirumuskan,” kata Yulianto.

Di sisi lain, sambung dia, reformasi pelayanan kesehatan terbukti menekan angka kematian ibu (AKI) di Jawa Tengah. Data terakhir pada Agustus 2018 menyebutkan AKI pada 2017 berada di 88,58 per 100 ribu kelahiran hidup.

Angka itu melampaui target SDG’s yang menetapkan pada angka 90 per 100 ribu kelahiran hidup. “Tidak ada lagi rapor merah sejak 2017,” kata dia.

Sebelumnya, berdasarkan hasil survei eksternal kepada masyarakat pengguna layanan, Indeks Persepsi Pelayanan Publik di RSUD dr. Moewardi mencapai angka 3,343. Sementara Indeks Persepsi Antikorupsi bernilai 3,8 dengan skala 1-4.

Hasil tersebut diperkuat dengan evaluasi dari Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Tahun 2017, yang menetapkan rumah sakit tersebut sebagai Wilayah Bebas dari Korupsi.