Serangan Tikus Mengganas, Petani Majasto Sukoharjo Geropyokan

Ratusan ekor tikus ditangkap saat geropyokan di Majasto, Kecamatan Tawangsari, Sukoharjo, Minggu (6/1 - 2019). (Indah Septiyaning W.)
06 Januari 2019 20:15 WIB Indah Septiyaning Wardhani Sukoharjo Share :

Solopos.com, SUKOHARJO -- Ratusan ekor tikus ditangkap saat geropyokan yang dilakukan pemerintah desa (pemdes) bersama petani dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat di lahan pertanian Desa Majasto, Kecamatan Tawangsari, Sukoharjo, Minggu (6/1/2019).

Geropyokan tikus tersebut gencar dilakukan selain upaya memberantas serangan tikus juga untuk menjaga produktivitas tanaman padi pada masa tanam (MT) tahun ini.

Kepala Desa (Kades) Majasto, Rudi Hartono, mengatakan serangan tikus meningkat memasuki musim penghujan. Bahkan populasinya meningkat hingga dua kali lipat sehingga diperlukan upaya pemberantasan tikus melalui gerakan geropyokan secara massal.

“Geropyokan kami lakukan melibatkan berbagai unsur masyarakat. Tidak hanya pemdes dan petani, tapi Gapoktan [gabungan kelompok tani], warga, dan anak-anak juga ikut,” kata dia ketika berbincang dengan Solopos.com.

Geropyokan dimulai sekitar pukul 07.00 WIB. Seluruh elemen mayarakat bersama-sama memburu dan membongkar sarang tikus. Geropyokan ini dinilai efektif dilakukan sebelum pengolahan lahan memasuki musim tanam.

Kegiatan ini secara intensif akan dilakukan guna membasmi tikus hingga ke sarangnya. Guna mendorong partisipasi warga dalam memberantas tikus, Pemdes menyiapkan dana khusus di mana setiap ekor tikus yang berhasil ditangkap akan dibeli senilai Rp1.000.

“Kita kumpulkan dana dari hasil sumbangan pemdes, perangkat desa, pamong, BPD, pengusaha pompa, dan pengusaha tebas. Dana ini kemudian untuk membayar setiap tikus yang ditangkap, per ekornya dihargai Rp1.000,” katanya.

Dia mengatakan perburuan tikus di lubang-lubang areal persawahan akan dirutinkan. Hal ini dikarenakan saat ini hama tikus masih menjadi ancaman bagi petani di wilayah Majasto.

Selain itu juga ada hama sundep dan keong mas yang perlu diwaspadai. Salah satu petani, Parno, mengatakan gerakan gropyokan tikus secara massal dinilai mampu menekan perkembangbiakan hewan pengerat tersebut.

“Kami sangat terbantu dengan gerakan geropyokan tikus ini. Karena hama tikus mudah berkembang biak di saat musim penghujan ini,” katanya.

Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Sukoharjo Netty Harjianti mengatakan terdapat beberapa hal yang wajib dilakukan petani agar musim tanam berjalan lancar di antaranya pengendalian tikus dan keong mas serta antisipasi serangan hama sundep.

"Kami sampaikan kepada petani agar memperhatikan persiapan musim tanam. Selain pengolahan tanah dan alat, petani juga wajib lakukan pengendalian tikus lebih dulu," kata dia.

Menurutnya tikus mudah berkembang biak saat musim penghujan ini sehingga diperlukan keaktifan para petani memberantas hama tersebut. Salah satunya melalui gerakan geropyokan tikus secara massal dan berkelanjutan.

Kegiatan tersebut dilakukan dalam upaya mengantisipasi serangan hama tikus saat ada tanaman. Diharapkan agar populasi tikus tidak meningkat ketika saat mulai melakukan penanaman utamanya dalam tahap persemaian.

Dampak serangan tikus terhadap tanaman sangat luar biasa yakni bisa gagal panen bahkan mengakibatkan lahan puso.