Kisah Pangeran Samudro Berjalan Doyong di Asale Desa Doyong Sragen

Seorang warga menenun sarung goyor dengan alat tenun bukan mesin (ATBM) di Desa Doyong, Kecamatan Miri, Sragen, pekan lalu. (Solopos - Moh. Khodiq Duhri)
06 Januari 2019 16:15 WIB Moh Khodiq Duhri Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN -- Terletak di Kecamatan Miri, Sragen, Desa Doyong cukup mudah dijangkau karena berada di pinggir jalan Solo-Purwodadi atau berjarak sekitar 3 km dari Kota Kecamatan Gemolong.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), doyong berarti condong, miring, hampir roboh. Makna leksikal dari kata doyong ini ternyata berhubungan erat dengan sejarah berdirinya Desa Doyong menurut versi cerita rakyat setempat.

Desa yang berjarak sekitar 2 km dari Gunung Kemukus ini memang masih ada hubungan dengan perjalanan spiritual yang dilakukan Pangeran Samudro. Pangeran Samudro merupakan putra dari seorang Raja Majapahit yang lahir dari ibu selir bernama Raden Ayu Ontrowulan.

Ketika Kerajaan Majapahit runtuh, Pangeran Samudro bersama ibunya ikut diboyong ke daerah Demak Bintoro oleh Sultan Demak.

Selama berada di Demak, Pangeran Samudro mendapat bimbingan ilmu agama dari Sunan Kalijaga. Saat usianya beranjak dewasa, Pangeran Samudro diperintahkan Sultan Demak untuk berguru kepada Kyai Ageng Gugur dari Desa Pandan Gugur di daerah lereng Gunung Lawu.

Perintah kepada Pangeran Samudro ini mengandung misi suci yakni menyatukan saudara-saudaranya yang telah terpisah lama. Didampingi dua orang abdi, Pangeran Samudro memulai perjalanan spiritualnya untuk berguru kepada Kyai Ageng Gugur.

Hari demi hari, Pangeran Samudro belajar agama Islam secara lebih mendalam kepada Kyai Ageng Gugur. Setelah berhari-hari belajar ilmu agama, Pangeran Samudro baru mengetahui Kyai Ageng Gugur merupakan kakak kandungnya sendiri.

Selesai berguru, Pangeran Samudro bersama dua abdinya kembali ke Demak. Mereka berjalan ke arah barat dan sampai lah di daerah bernama Gondang Jenalas yang kini dikenal dengan Gemolong. Di sana, Pangeran Samudro beristirahat untuk melepaskan lelah.

Setelah dirasa cukup, Pangeran Samudro kembali melanjutkan perjalanan ke arah barat dan sampai di suatu tempat di padang atau oro-oro kabar yang kini terletak di Dusun Bogorame, Desa Purworejo, Gemolong.

Di tempat inilah Pangeran Samudro terserang penyakit panas. Walaupun demikian, perjalanan menuju Demak tetap dilanjutkan. Dalam perjalanan itu, Pangeran Samudro semakin berat melangkahkan kaki.

“Badannya sudah tidak mampu tegak saat berjalan. Dia berjalan sambil doyong [sempoyongan]. Bahkan hampir jatuh. Lokasi itu kemudian disebut dengan nama Desa Doyong,” ujar tokoh masyarakat Desa Doyong, Agung Purnomo, kepada Solopos.com, Jumat (4/1/2019).

Dalam situasi seperti itu, Pangeran Samudro tetap melanjutkan perjalanan menuju Demak. Namun ajal menjemputnya sesampainya di Gunung Kemukus. Di gunung itu, Pangeran Samudro dimakamkan.

Saat ini, makam Pangeran Samudro di Gunung Kemukus banyak didatangi peziarah dari berbagai daerah. Hingga kini, kearifan lokal Desa Doyong tetap terjaga dengan baik.

Kegiatan sedekah desa rutin digelar di desa ini. Setiap ada perhelatan sedekah desa, digelar juga pertunjukan kesenian tradisional tayub. Di desa ini juga masih banyak ditemukan pengrajin sarung tenun goyor.

Sarung ini dibuat dengan alat tenun bukan mesin (ATBM). “Kesenian gejog lesung juga masih rutin dimainkan di desa ini. Ke depan, Desa Doyong akan dikembangkan menjadi desa wisata oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sragen,” terang Agung Purnomo.