Kawasan Elite Dibangun di Tengah Kota Boyolali, Ada RS Bertarif Rp10 Juta/Malam

Pekerja menyelesaikan bangunan tulisan raksasa BOYOLALI di hutan di tengah kota Boyolali. Pemkab menawarkan kawasan itu untuk dikembangkan sebagai kawasan elite. Foto diambil Kamis (3/1 - 2019). (Solopos/Akhmad Ludiyanto)
07 Januari 2019 07:10 WIB Akhmad Ludiyanto Boyolali Share :

Solopos.com, BOYOLALI-Kawasan hutan yang terdapat di tengah kota Boyolali akan disulap menjadi kawasan elite. Rencananya, di kawasan ini dibangun perumahan elite, rumah sakit mewah, dan hotel berbintang.

Kawasan hutan kota ini berada di Desa Karanggeneng, Kecamatan Boyolali Kota, sebelah utara Taman Kridanggo yang membentang dari sekitar Kali Gedhe hingga sekitar jalur lingkar utara (Jl. Prof Soeharso). Lahan milik warga tersebut saat ini sebagian besar masih ditumbuhi pohon berkayu dan sema-semak.

Meski berada di tengah kota, selama ini kawasan tersebut nyaris terisolasi dan tidak dikembangkan karena keterbatasan akses. Baru pada 2018 Pemkab Boyolali membuat jalan baru dari kawasan Taman Kridanggo hingga Susiloharjo yang menghubungkan wilayah kota bagian timur dan jalan tol via jalur lingkar utara.

Jalan baru ini didukung pula dengan dua jembatan baru yakni jembatan Lebur Sekethi dan Lembu Sekilan. Jembatan Lebur Sekethi ini dulu juga disebut-sebut desainnya akan mirip dengan Golden Gate di Amerika. Bupati Boyolali Seno Samodro mengatakan di hutan kota itu tersedia lahan setidaknya 20 hektare (ha) yang bisa dikembangkan menjadi kawasan elite.

“Kalau 20 hektare ada lah. Nanti dibangun sehingga Boyolali akan punya kawasan elite. Mohon doanya saja semoga lancar,” ujarnya saat berbincang dengan Solopos.com di sekitar jembatan Lebur Sekethi, Kamis (3/1/2018).

Konsep kawasan elite yang dia tawarkan adalah perumahan elite, rumah sakit mewah, dan hotel berbintang. Perumahan elite itu, kata Seno, boleh jadi harganya rata-rata Rp1 miliar lebih per unit, sedangkan hotelnya nanti berbintang 4.

Sementara rumah sakit mewah nanti memang khusus bagi pasien VIP atau VVIP yang menginginkan kualitas pelayanan super, sekelas rumah sakit-rumah sakit di Singapura. “Kamarnya mungkin luasnya 300 meter persegi. Tarif [kamarnya] bisa Rp10 juta per malam non BPJS dan mungkin hanya tersedia beberapa puluh unit kamar,” kata dia.

Selain dilengkapi alat kesehatan yang memadai, rencananya rumah sakit juga disediakan helipad untuk landasan helikopter. “Kalau ada pasien VVIP atau darurat dari luar kota dan turun di bandara dan harus diangkut dengan helikopter, nanti di rumah sakit ada helipad-nya. Sedangkan pasien via jalur darat bisa diantar-jemput pakai ambulans Toyota Alphard,” imbuhnya.

Pengembangan kawasan ini sepenuhnya dilakukan oleh pihak swasta dan sedangkan Pemkab sebagai fasilitator perizinan. Seno mengaku saat ini ada sudah ada dua investor yang tertarik mengembangkan kawasan tersebut, salah satunya dari Jerman. “Yang pengembang perumahan nanti investor dari Jakarta, sedangkan yang hotel dan rumah sakit nanti dari Jerman yang sudah punya jaringan internasional,” kata dia.

Sementara itu, pantauan Solopos.com, saat ini di hutan tersebut dipasang tulisan raksasa “BOYOLALI” berketinggian belasan meter. Selain itu, Pemkab juga menjadikan hutan itu sebagai pusat pesta kembang api pada perayaan pergantian tahun (2018/2019). Boleh jadi, pemasangan tulisan dan pergelaran pesta kembang api itu sebagai penanda segera dibangunnya kawasan elite itu.