Setyo Widodo Ajak Difabel Jadi Sukarelawan Siaga Bencana

Setyo Widodo - Espos/Taufik Sidik Prakoso
07 Januari 2019 12:45 WIB Taufik Sidik Prakoso Klaten Share :

Setyo Widodo sedang berkumpul bersama teman-temannya di sekretariat Persatuan Penyandang Disabilitas Klaten (PPDK), Kelurahan Bareng Lor, Kecamatan Klaten Utara saat Espos menemuinya belum lama ini. Aktivitas itu dilakukan pria kelahiran 21 Juli 1978 tersebut hingga tengah hari sebelum ia berangkat ke rumah sakit. “Pukul 11.30 WIB saya harus berangkat ke rumah sakit untuk cuci darah. Saya cuci darah dua kali dalam sepekan,” kata pria yang akrab disapa Dodo tersebut.

Sekitar dua tahun terakhir, Dodo mengidap gagal ginjal yang mengharuskannya rutin melakukan cuci darah. Namun, hal itu tak menghalangi pria yang tinggal di Desa Jambukulon, Kecamatan Ceper, Klaten, tersebut beraktivitas. Dodo dipercaya menjadi Bendahara PPDK dan menjadi Ketua Ikatan Tuna Daksa Klaten. Lulusan STAIM Klaten jurusan Tarbiyah tersebut juga dipercaya menjadi Ketua Unit Layanan Disabilitas (ULD) BPBD Klaten. “Ini bagian dari rasa syukur saya masih diberikan semangat,” urai suami Dwi Ariyani itu.

Soal ULD, Dodo mengatakan dibentuk sejak 2017 lalu. Pembentukan ULD BPBD Klaten merujuk pada Perka BNPB No. 14/2014 tentang Penanganan, Perlindungan, dan Partisipasi Penyandang Disabilitas dalam Penanggulangan Bencana. Dodo mengatakan dalam kebencanaan difabel juga berpotensi menjadi sukarelawan kebencanaan jika mendapat pelatihan. Membentuk sukarelawan difabel itulah yang menjadi salah satu kegiatan ULD BPBD Klaten selain menyosialisasikan kegiatan mitigasi bencana terutama untuk penyandang disabilitas. “Saat ini ada 34 sukarelawan difabel. Ini memang baru sedikit dari jumlah difabel yang mencapai belasan ribu orang. Namun, dari yang sedikit ini tetap disyukuri dan harapannya bisa semakin banyak,” ungkap dia.

Lebih lanjut, Dodo berharap difabel bisa diberi peluang pada bidang lain melalui dibentuknya ULD BPBD Klaten. Peningkatan kapasitas difabel diperlukan untuk memandirikan para penyandang disabilitas tersebut. “Ketika difabel meningkat kapasitasnya mereka akan menjadi potensi. Kalau tidak diberi kesempatan, selamanya difabel akan mejadi beban,” katanya.