Begini Alasan Pengecer Pupuk di Sukoharjo Kebingungan

ilustrasi pupuk. (Solopos/Dok)
08 Januari 2019 06:35 WIB R Bony Eko Wicaksono Sukoharjo Share :

Solopos.com, SUKOHARJO – Penurunan alokasi pupuk bersubsidi tak hanya berdampak bagi para petani, tetapi juga para pengecer pupuk di setiap kecamatan di Sukoharjo kebingungan. Bahkan mereka berupaya menawarkan pupuk alternatif pengganti pupuk bersubsidi kepada para petani.

Seorang pengecer pupuk di Desa Mertan, Kecamatan Bendosari, Bambang Sadono, mengatakan para pengecer pupuk diperkirakan tak bisa melayani kebutuhan pupuk para petani saat masa tanam (MT). Mereka bingung saat harus menyalurkan pupuk lantaran alokasi pupuk berkurang dibanding tahun lalu.

“Jatah pupuk bersubsidi harus sesuai rencana definitif kebutuhan kelompok tani (RDKK). Padahal, alokasi pupuk berkurang. Sementara para petani ingin menebus pupuk sesuai jatah yang tercatat dalam RDKK,” kata dia saat berbincang dengan Solopos.com, Senin (7/1/2019).

Permasalahan lainnya, pasokan pupuk bersubsidi dari produsen ke pengecer kerap tersendat. Saat stok pupuk menipis, pasokan pupuk tak kunjung dikirim. Alhasil, para pengecer ketar-ketir saat ada petani yang menebus pupuk dalam jumlah besar.

Bambang tak kaget kalangan petani menjerit lantaran alokasi pupuk bersubsidi turun dibanding tahun lalu. “Saat ini, kebutuhan pupuk petani jauh dari cukup apalagi sekarang alokasinya dikurangi. Kebiasaan petani di selalu menggunakan pupuk bersubsidi saat awal masa tanam,” ujar dia.

Sementara pupuk organik tak bisa mencukupi kebutuhan pupuk petani selama masa tanam. Apabila para petani beralih menggunakan pupuk organik dikhawatirkan pertumbuhan tanaman padi tidak maksimal yang berpengaruh pada hasil panen.

Bambang bakal menawarkan pupuk lokal sebagai pengganti pupuk bersubsidi kepada para petani. “Ada pupuk Putrani dan Fertiphos yang bisa menjadi pupuk alternatif para petani. Mereka tak bisa lagi mengandalkan pupuk SP36 dan Urea saat masa tanam,” tutur dia.

Sementara itu, Ketua Gapoktan Desa Bekonang, Asih Supomo, mengatakan belum mengetahui informasi ihwal penurunan alokasi pupuk bersubsidi. Selama ini, para petani memilih pupuk bersubsidi dibanding organik. Dia berharap pemerintah mengkaji ulang kebijakan penurunan alokasi pupuk bersubsidi.