Mayat Di Mobil Jalur Cawas-Sukoharjo, Ini Kesaksian Suyanti

Seorang warga mengunjungi Suyanti, di rumahnya, Desa Candirejo, Kecamatan Semin, Gunungkidul, DIY, Selasa (8/1/2019). (Solopos - Bony Eko Wicaksono)
08 Januari 2019 21:15 WIB R Bony Eko Wicaksono Sukoharjo Share :

Solopos.com, SUKOHARJO -- Suyanti, warga RT 002/RW 003, Desa Candirejo, Kecamatan Semin, Gunungkidul, DIY, mengaku dipukul berulang kali menggunakan palu di bagian kepala oleh Mujiman yang ditemukan tewas di dalam mobil di Jalan Watukelir-Cawas, Sukoharjo, Rabu (2/1/2019) lalu.

Sebelum itu, Suyanti diajak berputar-putar menggunakan mobil Mujiman tanpa tujuan jelas selama sekitar tujuh jam mulai pukul 08.30 WIB-16.00 WIB. Hal ini diungkapkan Suyanti, saat ditemui Solopos.com di kediamannya di Semin, Gunungkidul, DIY, Selasa (8/1/2019).

Suyanti baru pulang dari Rumah Sakit Khusus Bedah (RSKB) Islam, Cawas, Klaten, tempatnya dirawat, Minggu (6/1/2019) malam. Kepala Suyanti masih diperban. Dia hanya terbaring di kasur rumahnya.

Suyanti menceritakan secara awal mula kejadian tragis yang merenggut nyawa Mujiman. Suyanti dan istri Mujiman, Supadmi, merupakan pedagang Pasar Semin, Gunungkidul. Suyanti berjualan bumbu dapur sementara Supadmi menjajakan berbagai aneka jenis jenang.

“Kepala saya tiga kali dipukul menggunakan palu saat saya menunduk di mobil. Saat itu, kepala saya bersimbah darah. Pak Muji juga sempat mengalungkan senjata tajam bergerigi di leher saya,” kata dia.

Suyanti berulang kali berusaha membuka pintu mobil namun selalu dihalang-halangi Mujiman. Saat pintu mobil terbuka, Suyanti ditendang Mujiman hingga terjerembab di pinggir jalan.

Penglihatannya terhalang oleh cucuran darah dari kepalanya. Suyanti merangkak menjauhi mobil dan meminta pertolongan kepada pengguna jalan.

“Saya sempat membela diri saat kejadian di dalam mobil. Dalam batin, saya tidak mau mati dibunuh Pak Muji,” ujar dia.

Beberapa hari sebelum kejadian, Suyanti mengaku berbincang dengan Supadmi, istri Mujiman, di pasar. Kala itu, Supadmi menyatakan niat meminjam uang senilai Rp25 juta.

Namun, Suyanti hanya memiliki uang Rp12 juta. Suyanti akhirnya meminjami uang Rp12 juta kepada Supadmi. Uang itu tak diserahkan kepada Supadmi melainkan Mujiman.

Beberapa hari kemudian, Mujiman diminta istrinya agar segera mengembalikan uang kepada Suyanti. Mujiman lantas menjemput Suyanti di pasar menuju Bank BRI Unit Semin, Gunungkidul.

“Pak Muji dikenal suka berbohong. Dia hendak mengambil uang di bank hanya untuk mengelabui saya. Itu semua rekayasa Pak Muji untuk mengulur-ulur waktu agar tidak membayar utang,” papar dia.

Suyanti mengaku diajak berputar-putar menggunakan mobil selama berjam-jam. Mobil Kijang Super warna merah marun berpelat AB 1254 GD sempat mogok di wilayah Semin. Kala itu, Mujiman menghubungi montir bengkel untuk memperbaiki mobilnya.

“Montir bengkel tahu ada berbagai senjata tajam di mobil. Ada palu, gergaji, dan pisau. Saya masih trauma atas kejadian itu.”

Sementara itu, kakak kandung Suyanti, Samto, mengaku telah dimintai keterangan oleh polisi sehari setelah kejadian. Samto tak mengetahui secara jelas kejadian yang berujung maut itu.

Dia mengaku kenal Mujiman dan istrinya lantaran berjualan jenang di Pasar Semin. Samto menyerahkan proses hukum kasus itu kepada polisi.

Penyidik Polres Sukoharjo telah memeriksa tiga saksi yang berada di lokasi kejadian. Keterangan para saksi bakal disinkronkan dengan hasil olah tempat kejadian perkara (TKP) di lokasi kejadian. Hingga saat ini, penyidik belum menetapkan tersangka kasus pembunuhan di dalam mobil itu.