4 Ha Tanaman Padi di Jurangjero Klaten Habis Jadi Santapan Tikus

Ilustrasi petani menanam bibit padi di area persawahan. (Antara/Yusuf Nugroho)
08 Januari 2019 15:15 WIB Taufik Sidik Prakoso Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN -- Tanaman padi di sawah seluas 66 hektare (ha) di Klaten diserang tikus. Dari total luas sawah tersebut, 4 ha dinyatakan puso alias tak mengeluarkan hasil panen setelah padi yang ditanam habis dirusak hewan pengerat tersebut.

Serangan tikus terjadi di wilayah Juwiring, Wonosari, dan Karanganom. Dari total 66 ha di tiga kecamatan itu, 56 ha di antaranya rusak ringan, 6 ha rusak sedang, dan 4 ha rusak berat atau puso.

Angka itu berdasarkan data yang dihimpun dari Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan (PKPP) Klaten pada tengah bulan II Desember 2018 atau antara 15 Desember hingga 31 Desember 2018.

Kabid Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas PKPP Klaten, Joko Siswanto, mengatakan lahan padi yang puso akibat serangan tikus berada di Desa Jurangjero, Kecamatan Karanganom. Ia memastikan gerakan geropyokan tikus atau pengendalian tikus dengan cara perburuan terus dilakukan di desa tersebut agar serangan tikus tak semakin meluas.

“Gerakan terus berlanjut dan pertumbuhan jumlah tikus tidak berkembang banyak,” kata Joko saat berbincang dengan Solopos.com, Senin (7/1/2019).

Joko menjelaskan serangan tikus relatif tak mempengaruhi produksi padi di Klaten. Hal itu karena total luas lahan padi yang diserang lebih sedikit dibanding total luas lahan yang ditanami padi di Klaten hingga kini.

“Kalau persentasenya itu tidak lebih dari satu persen. Total luas tanam padi di Klaten saat ini sekitar 23.000 ha,” urai dia.

Lebih lanjut, Joko menuturkan salah satu cara paling efektif untuk mengendalikan tikus yakni melalui pembudidayaan musuh alami hewan pengerat tersebut, salah satunya burung hantu. Di Klaten, petani mulai mengembangkan rumah burung hantu di areal persawahan.

“Sudah ada rumah burung hantu di daerah-daerah endemis tikus seperti Karanganom dan Wonosari. Namun, populasi burung hantu belum sebanding dengan jumlah tikus sehingga masih ada serangan. Dari pantauan kami burung-burung hantu yang menghuni rumah burung hantu di sawah mulai berkembang,” jelas dia.

Kepala Balai Perlindungan Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Dinas Pertanian dan Perkebunan Jawa Tengah, Herawati Prarastyani, juga mengatakan keberadaan burung hantu di areal persawahan efektif untuk mengendalikan tikus.

Lantaran hal itu, Dinas Pertanian dan Perkebunan Jateng berencana mengembangkan rumah burung hantu di kabupaten-kabupaten yang selama ini kerap terjadi serangan tikus di lahan sawah.

“Program untuk rumah burung hantu itu kami ada 20 unit. Di wilayah Surakarta [Soloraya] kami coba dua unit. Kami memfasilitasi saja dan berharap ada lebih banyak swadaya dari kelompok tani. Untuk membuat rumah burung hantu ini juga terhitung murah sekitar Rp500.000/unit,” kata dia.