Brukkk! Kandang Berisi 17.000 Ayam di Klaten Roboh

Pekerja mencari ayam yang masih hidup di antara reruntuhan kandang ayam milik Giyanto di Dukuh Mejing, Desa Malangan, Kecamatan Tulung, Klaten, Selasa (8/1/2019). (Solopos - Taufiq Sidik Prakoso)
08 Januari 2019 18:15 WIB Taufik Sidik Prakoso Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN -- Kandang berisi 17.000 ekor ayam di Dukuh Mejing, Desa Malangan, Kecamatan Tulung, Klaten, ambruk diterjang angin kencang, Senin (7/1/2019) sore. Pemilik kandang diperkirakan rugi hingga Rp500 juta.

Angin ribut menerjang wilayah Dukuh Mejing sekitar pukul 15.00 WIB, Senin. Kandang ayam milik Giyanto yang berada di tengah lahan persawahan ambruk.

Kandang itu berukuran 3 meter x 72 meter berisi 17.000 ayam berumur 16 hari. Kandang terbagi menjadi tiga tingkat. Seluruh bagian kandang yang dibangun dari bambu dan pagar tembok itu ambruk akibat diterjang angin.

“Di dalam kandang itu semuanya ayam pedaging. Saat kejadian itu ada dua pekerja yang jaga. Mereka berhasil menyelamatkan diri,” kata pengelola kandang, Agus, 28, saat ditemui di sekitar kandang ambruk, Selasa (8/1/2019).

Agus mengatakan sekitar 3.600 ekor ayam berhasil diselamatkan dari reruntuhan kandang dan dipindahkan ke kandang lain hingga Senin petang. Sementara proses penyelamatan ayam yang masih hidup terus dilakukan hingga Selasa lantaran masih banyak ayam yang terperangkap di antara reruntuhan kandang.

Terkait jumlah ayam yang mati, Agus belum bisa memastikan. Namun, sekitar 50 persen ayam di kandang tersebut mati.

”Kandang dibangun sekitar dua tahun lalu. Total kerugian kami perkirakan Rp500 juta,” tutur Agus.

Kepala Desa Malangan, Subagyo, mengatakan hujan deras disertai angin kencang menerjang wilayah Malangan selama hampir satu jam pada Senin sore. Ia menuturkan hujan tersebut disertai hujan es.

“Suara hujannya itu trotok-trotok dan deras,” kata Subagyo saat ditemui di ruang kerjanya.

Selain kandang ayam, terjangan angin kencang juga membuat sejumlah pohon di wilayah Malangan ambruk. Namun, ia memastikan tak ada pohon yang ambruk hingga melintang di badan jalan kampung.

“Tidak ada warga yang menjadi korban. Ada beberapa pohon ambruk namun tidak sampai menutup jalan,” ungkapnya.

Kepala BPBD Klaten, Bambang Giyanto, mengatakan hujan deras disertai angin ribut menerjang sejumlah desa di Klaten pada Senin sore. Dari laporan yang ia terima, pohon tumbang terjadi di wilayah Desa Ngabeyan, Kecamatan Karanganom, hingga menutup jalan desa.

Selain itu, angin kencang merusak kubah Masjid Besar Darussalam di Desa Polan, Kecamatan Polanharjo. Sementara guyuran hujan deras membuat debit sejumlah sungai meningkat.

Peningkatan debit sungai itu membuat talut di Desa Ponggok, Kecamatan Polanharjo, ambrol sepanjang 30 meter dengan ketinggian 2 meter. Talut di Desa Turus, Kecamatan Polanharjo, sepanjang 40 meter dan tinggi 2 meter juga ambruk hingga mengancam jalan desa.

Debit dan arus air di Sungai Kaligawe juga meningkat. Derasnya aliran air memuat rumpun bambu longsor dan terbawa aliran hingga melintang di Jembatan Kupang, Kecamatan Karangdowo.

Akibat aliran terhambat, air sungai meluap di perkampungan Desa Kupang, Karangdowo setinggi 30 sentimeter. “Sudah ada penanganan untuk pohon tumbang serta rumpun bambu yang menghambat aliran air sungai dari sukarelawan, BPBD, BBWSBS, TNI, dan polri bersama warga,” kata Bambang.

Bambang mengatakan sesuai prediksi BMKG, puncak musim hujan diperkirakan terjadi mulai 20 Desember 2018. Ia mengimbau warga agar tetap waspada terhadap angin kencang serta meluapnya air sungai.

“Kami berharap sampah jangan dibuang ke sungai. Di aliran sungai itu masih banyak ditemui timbunan sampah. Ini perlu kesadaran dari semuanya agar menjaga sungai tetap bersih,” urai dia.