Macan Tutul di Solo Zoo Diminta segera Dikembalikan ke Gunung Lawu

Macan tutul Gunung Lawu yang meresahkan warga Jatiyoso, Karanganyar. (Solopos/Sri Sumi Handayani)
08 Januari 2019 16:55 WIB Ponco Suseno Karanganyar Share :

Solopos.com, KARANGANYAR – Forum Rakyat Peduli Gunung Lawu berharap macan tutul yang tertangkap beberapa waktu lalu segera dikembalikan ke habitat aslinya di hutan di Gunung Lawu.

Forum Rakyat Peduli Gunung Lawu tak setuju keberadaan macan tutul yang sempat meresahkan warga di lereng Gunung Lawu itu ditempatkan di Solo Zoo secara permanen. Sebelumnya diberitakan, seekor macan tutul masuk perangkap yang dipasang petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Wilayah I Jateng di Wonorejo, Jatiyoso, Sabtu (22/12/2018). Perangkap BKSDA Wilayah I Jateng dipasang sejak, 26 November 2018. Selanjutnya, macan tutul yang sempat menjadi perhatian warga itu dikirim ke Solo Zoo alias Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ) Solo.

Sebelum tertangkap, macan tutul sempat memangsa puluhan kambing milik warga di Wonorejo, Jatiyoso. Beberapa pemilik kambing di Sepanjang, Tawangmangu, juga harus menanggung kerugian karena hewan ternak mereka dimangsa macan tutul. Hingga sekarang, beberapa perangkap masih dipasang di Wonorejo (Jatiyoso) dan Sepanjang (Tawangmangu) guna mengantisipasi kehadiran macan tutul yang ukurannya dinilai jauh lebih besar dibandingkan yang sudah tertangkap.

“Setiap hari, kami berkomunikasi dengan warga di daerah rawan serangan macan itu. Pada intinya, mereka masih waswas kalau macan kembali ke permukiman warga. Makanya, kami meminta pihak terkait yang membawa macan ke Solo Zoo [BKSDA wilayah I Jateng] agar segera mengembalikan macan itu ke habitat aslinya. Tujuannya agar tak ada macan lain yang mencari macan yang sudah ditangkap itu. Sehingga, warga juga nyaman,” kata Ketua Forum Rakyat Peduli Gunung Lawu, Aan Shopuanuddin, saat ditemui wartawan di kompleks Gedung DPRD Karanganyar, Senin (7/1/2019).

Aan menilai upaya menempatkan macan tutul dari Gunung Lawu di Solo Zoo secara permanen bukan langkah jitu. Sebaliknya, macan tutul yang sudah tertangkap itu mestinya dikembalikan ke habitat awal. Di samping itu, melakukan pelestarian alam di hutan Gunung Lawu agar ketersediaan macan tutul di Gunung Lawu tercukupi.

“Yang perlu dilakukan itu adalah memastikan ketersediaan pangan di hutan Gunung Lawu itu cukup. Jika pangan di atas cukup, kami meyakini macan itu tak turun hingga ke permukiman warga. Jika solusi yang diambil, membawa macan yang tertangkap ke daerah lain [Solo Zoo], warga masih waswas. Khawatir macan yang lain turun lagi ke permukiman,” katanya.

Selain melestarikan alam, lanjut Aan Shopuanuddin, sosialisasi pentingnya seluruh elemen masyarakat proaktif dalam melestarikan alam perlu terus didengungkan. Hal ini termasuk melarang pemburu beraktivitas di hutan Gunung Lawu.

“Satu tahun sebelum macan tutul itu turun gunung, saya pernah bertemu dengan para pemburu di kawasan Sekipan, Tawangmangu. Saat itu, saya ditawari daging kidang senilai Rp25.000-Rp30.000 per kilogram. Ini artinya, keberadaan kidang semakin berkurang. Padahal, kidang itu salah satu makanan macan. Maka perlu diatur secara tegas. Perlu juga dibahas tentang rencana membuat peraturan daerah tentang larangan berburu di Gunung Lawu. Kami berharap ada respons positif dari jajaran eksekutif atau pun legislatif di Karanganyar,” katanya.