Harga Petai di Wonogiri Capai Rp100.000/Ikat

Warga memasukkan petai ke karung di tempat pengepul petai di Desa Sendang, Kecamatan Wonogiri, Wonogiri, Selasa (8/1 - 2019). (Solopos/Rudi Hartno
08 Januari 2019 18:35 WIB Rudi Hartono Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI — Harga jual petai di Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, naik empat kali lipat sejak Desember 2018 lalu. Sebab, musim panen petai akan berakhir, sehingga ketersediaan komoditas itu kian menipis.

Pengepul petai di Desa Sendang, Kecamatan Wonogiri, Ria Ningsih, 49, saat ditemui solopos.com, Selasa (8/1/2019), mengatakan saat puncak panen, Oktober-November tahun lalu, harga seikat petai yang berisi 100 lonjor hanya Rp25.000-Rp30.000.

Jika dijual eceran, harganya Rp500/lonjor (satu lonjor berisi 10-18 butir petai). Sejak akhir Desember harga naik. Pada Selasa, harga seikat mencapai Rp100.000. Apabila dijual eceran harga mencapai Rp2.000/lonjor.

Menurut perempuan yang akrab disapa Ning itu, harga tersebut belum mencapai puncak tertinggi. Dia memprediksi harga akan naik lagi, karena ketersediaan petai semakin menipis.

“Kalau pas barangnya langka nanti, kemungkinan harganya bisa sampai Rp200.000-Rp250.000/ikat. Musim panen kemungkinan sampai Maret atau April. Pada bulan-bulan itu nanti barangnya hanya sedikit,” kata Ning.

Sekarang ini dia kewalahan memenuhi permintaan pasar. Permintaan sangat besar, tetapi dia hanya bisa memenuhi lebih kurang 30-40 ikat atau tiga hingga empat karung/hari. Permintaan pasar terbesar dari Jakarta dan Bogor.

Penebas petai, Samiyo, 45, mengaku mendapat untung lebih banyak saat harga petai mahal, meski modal yang dikeluarkan lebih besar dari pada sebelumnya.

Warga Tanjungsari, Pasekan, Eromoko itu menginformasikan saat puncak panen dia menebas petai seharga rata-rata Rp600.000/pohon. Sekarang ini harga tebasan mencapai Rp4 juta/pohon. 

“Warga Wonogiri yang menanam petai semakin banyak. Ada yang hanya punya satu pohon, tapi ada juga yang sampai punya 10 pohon. Punya pohon petai sangat menguntungkan. Setidaknya pemilik pohon akan punya pendapatan tambahan setiap musim panen petai. Petai ini selalu dicari orang, meski tak sedikit yang enggak mau mengonsumsinya,” kata Samiyo.