Penebas di Wonogiri Berani Bayar Rp125.000 demi Info Soal Petai

Warga memasukkan petai ke karung di tempat pengepul petai di Desa Sendang, Kecamatan Wonogiri, Wonogiri, Selasa (8/1 - 2019). (Solopos/Rudi Hartno
08 Januari 2019 20:35 WIB Rudi Hartono Wonogiri Share :

Solopos, WONOGIRI — Kenaikan harga petai di Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, hingga mencapai Rp100.000/ikat membuat kalangan penebas kian gencar berburu komoditas itu. Bahkan penebas bersedia membayar informasi soal adanya pohon petai yang tengah berbuah.

Penebas petai di Wonogiri, Samiyo, 45, mengatakan menebas petai tak semudah yang dibayangkan. Dia harus memiliki jaringan di dusun-dusun atau setidaknya informan.

Dia menjelaskan warga yang diberi tugas sebagai informan diminta memberi kabar jika ada warga yang memiliki pohon petai berbuah. Jika informasi benar, warga Tanjungsari, Pasekan, Eromoko, Wonogiri, itu memberi imbalan Rp100.000-Rp125.000 kepada informan.

Cara lainnya menghimpun data nomor telepon pemilik pohon petai sebanyak-banyaknya dan memberi nomor teleponnya kepada pemilik pohon. Dengan modal itu dia bisa menanyakan langsung kepada pemilik pohon.

“Atau sebaliknya, pemilik pohon yang memberi kabar sama saya. Biasanya saya menebas saat buah petai masih kecil. Saat usia sudah memadai saya baru memanen. Saking banyaknya pohon yang sudah saya bayar, saya pernah sampai lupa. Akhirnya saya enggak memanen pohon itu. Soalnya saya enggak pernah mencatat pohon milik siapa saja yang sudah saya bayar,” ucap Samiyo, Selasa (8/1/2019).

Dia mengaku mendapat untung lebih banyak saat harga petai mahal, meski modal yang dikeluarkan lebih besar dari pada sebelumnya. Samiyo menginformasikan saat puncak panen dia menebas petai seharga rata-rata Rp600.000/pohon. Harga tergantung hasil perkiraannya berdasar pengamatan.

Sekarang ini harga tebasan mencapai Rp4 juta/pohon. Sejak awal masa panen, Agustus 2018, dia sudah menebas puluhan pohon. Setiap tahun dia dapat menebas 100-200 pohon selama masa panen petai yang berlangsung selama enam bulan.

Diberitakan, harga jual petai di Wonogiri naik empat kali lipat sejak Desember 2018 lalu. Saat puncak panen Oktober-November tahun lalu, harga seikat petai yang berisi 100 lonjor hanya Rp25.000-Rp30.000. Jika dijual eceran, harganya Rp500/lonjor (satu lonjor berisi 10-18 butir petai). Sejak akhir Desember harga naik. Pada Selasa, harga seikat mencapai Rp100.000. Apabila dijual eceran harga mencapai Rp2.000/lonjor.

Pengepul petai di Desa Sendang, Kecamatan Wonogiri, Ria Ningsih, 49, mengaku permintaan pasar sangat besar, tetapi dia hanya bisa memenuhi lebih kurang 30-40 ikat atau tiga hingga empat karung petai perhari. Permintaan pasar terbesar dari Jakarta dan Bogor.

Jakarta, ungkap dia, setiap hari meminta pasokan petai dalam jumlah tak terbatas, tetapi Ning hanya mampu memenuhi rata-rata tiga karung/hari. Sementara, Bogor meminta minimal dua karung/hari, sedangkan Ning hanya mampu memenuhi rata-rata satu karung/hari.

“Wilayah penghasil petai dalam jumlah besar ada di Manyaran, Ngadirojo, Eromoko, dan Girimarto. Setelah musim panen petai di Wonogiri berakhir biasanya giliran Jawa Timur yang panen petai,” imbuh Ria Ningsih.