Penelepon Ngerjain Damkar Solo, Lapor Kebakaran Ternyata Bohong

Kebakaran melanda Pasar Legi, Solo, Senin (29/10 - 2018) malam. (Solopos / Nicolous Irawan)
09 Januari 2019 20:39 WIB Ichsan Kholif Rahman Solo Share :

Solopos.com, SOLO—Kepala Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Solo, Gatot Sutanto, di Balai Kota Solo, Rabu (9/1/2019), mengatakan pihaknya sering mendapatkan laporan palsu musibah kebakaran. Untuk jumlahnya, ia menyebut cukup banyak dan beberapa kali terjadi. Hal itu merupakan bentuk penghambatan pada kinerja petugas pemadaman sehingga dapat dikenakan kasus pidana.

Tahun ini, jumlah kasus kebakaran meningkat. Menurutnya, data jumlah kebakaran yang dimiliki petugas berdasarkan laporan dari masyarakat.

“Memang terjadi peningkatan jumlah kebakaran namun hal itu bentuk bahwa masyarakat telah sadar berbagai kebakaran pun dilaporkan. Sebelumnya biasanya dipadamkan sendiri,” ujar Gatot.

Berdasarkan data yang dihimpun Espos, tercatat pada 2016 terdapat 60 laporan kebakaran. Jumlah tersebut meningkat pada 2017 menjadi 78 kasus. Pada 2018 Dinas Pemadam Kebakaran mencatat 116 kasus laporan kebakaran di Kota Solo dan membantu 71 laporan kasus kebakaran di wilayah sekitar Kota Solo seperti Kecamatan Colomadu, Karanganyar, dan Kartasura, Sukoharjo.

Gatot menyebut dari 116 kasus, mayoritas penyebab kebakaran terjadi dikarenakan persoalan arus listrik. Menurutnya, kejadian tersebut disebabkan oleh faktor ekonomi di kota besar.

“Kota besar yang lain pun sama persoalannya paling banyak pada persoalan listrik. Masyarakat dulunya pakai elektronik daya rendah semakin lama semakin update,” ujar Gatot.

Untuk mengantisipasi terjadinya kebakaran, menurutnya diperlukan sosialisasi kepada masyarat tentang tata cara mencegah dan memadamkan api. Ia berencana membuat sertifikat atau bukti seseorang mengikuti pelatihan memadamkan api. Menurutnya, para pelajar atau siswa sekolah menengah kejuruan dalam mencari pekerjaan dapat memiliki sertifikat tersebut. Hal itu sebagai nilai lebih bagi perusahaan untuk menerima bahwa seseorang memiliki kemampuan memadamkan api.

Ia merencanakan pada tahun ini membuat inovasi dengan smart alarm di dua puluh lokasi di Kota Solo. Nantinya, smart alarm akan terkoneksi dengan markas Dinas Pemadam Kebakaran sehingga tidak perlu ada laporan, petugas dapat mendeteksi sumber api tersebut. Kemudian, ia berencana membuat sistem aplikasi untuk melaporkan kebakaran. Menurutnya, petugas sering kali dibuat bingung karena saat melapor kebakaran terjadi kepanikan sehingga tidak dapat menyebutkan lokasi kebakaran.

“Sebaiknya saat melapor ada yang mendampingi sehingga bisa jelas saat menyebutkan lokasi. Lalu, di tiap akses masuk ke lokasi saya berharap ada warga yang memberikan dan mengarahkan jalan menuju sumber api. Kini sudah ada bantuan komunitas yang mencarikan jalan itu cukup membantu. Nantinya dengan aplikasi pelapor juga dapat menyertakan foto kebakaran sehingga kami tahu unit apa yang sesuai untuk diterjunkan,” ujar Gatot.