17 Pemuda Telantar di Gemolong Sragen Gara-Gara Ikut MLM

Ilustrasi remaja korban MLM. (Solopos - Dok)
10 Januari 2019 20:15 WIB Moh Khodiq Duhri Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN -- Tujuh belas pemuda asal Wonosobo dan Banjarnegara ditemukan telantar di rumah kontrakan, Kampung Ketagan, RT 03, Kelurahan Gemolong, Sragen, Selasa (8/1/2019) malam.

Saat ditemukan, ke-17 pemuda berusia belasan hingga 20-an tahun itu kehabisan bekal untuk bertahan hidup di perantauan. Kapolsek Gemolong AKP I Ketut Putra mengatakan keberadaan 17 pemuda itu ditemukan tanpa sengaja.

Awalnya, Polsek Gemolong hanya menindaklanjuti laporan orang hilang yang masuk ke Polres Wonosobo. Menurut laporan yang masuk, anak itu mengikuti bisnis multilevel marketing (MLM).

"Kabarnya dia mengontrak rumah di Gemolong. Kami akhirnya menemukan anak itu di rumah kontrakan di Gemolong. Ternyata di sana ada 16 pemuda lain yang ikut MLM tersebut. Kami tidak melakukan penggerebekan, cuma tidak sengaja menemukan 17 pemuda di sebuah rumah kontrakan itu,” jelas I Ketut saat dihubungi Solopos.com, Kamis (10/1/2019) petang.

Ke-17 pemuda itu sudah tinggal di kontrakan itu selama sebulan. Saat ditemukan, 17 pemuda itu kehabisan bekal. Mereka belum mendapatkan bonus yang dijanjikan atasannya karena tidak berhasil menggaet pelanggan di Sragen.

Bahkan, beberapa di antara mereka belum makan karena kehabisan bekal. “Kami lalu membawa mereka ke Polsek Gemolong untuk dimintai keterangan. Kami membelikan mereka makanan dulu. Setelah itu, kami mencarikan bus untuk mengantar mereka pulang ke rumah masing-masing di Wonosobo dan Banjarnegara,” jelas I Ketut.

I Ketut menjelaskan kebanyakan pemuda itu merupakan lulusan SD dan SMP. Rendahnya tingkat pendidikan yang dienyam itu disinyalir membuat mereka mudah tergiur tawaran menjanjikan dari bisnis MLM ini.

Empat dari 17 pemuda itu bahkan mengaku sudah membayar sejumlah uang untuk membeli produk MLM tersebut. “Kebetulan belum ada warga Sragen yang tergiur bergabung MLM itu. Saya beri tahu mereka warga Sragen sudah mendengar kabar miring soal MLM itu. Jadi, mereka akan sulit mendapatkan pelanggan di Sragen. Daripada meresahkan warga sekitar, mereka kami antar pulang ke rumah masing-masing,” jelas I Ketut.

I Ketut menjelaskan bisnis MLM tersebut sah dilakukan. Menurutnya, tidak ada indikasi penipuan yang dilakukan para anggota MLM tersebut. Meski begitu, nama MLM tersebut sudah dikenal buruk citranya di kalangan warga Sragen.

“Warga Sragen sudah banyak mengenal jenis MLM ini. Citranya tidak baik di Sragen. Jadi, sudah pasti akan sulit mencari pelanggan di sini,” paparnya.