Kreatif, Warga Boyolali Sulap IPAL Komunal Jadi Panggung

Seniman lokal Andong, Rosyid Yos, menunjukkan gambar muralnya pada IPAL Komunal di Desa Kacangan, Andong, Boyolali, Rabu (9/1 - 2019). (Solopos/Nadia Lutfiana Mawarni)
10 Januari 2019 10:05 WIB Akhmad Ludiyanto Boyolali Share :

Solopos.com, BOYOLALI-Sebuah panggung tampak baru saja selesai dibangun di jalan Kacangan-Watu Gede, Desa Kacangan, Kecamatan Andong, Boyolali. Sekilas, panggung yang dibangun menggunakan semen itu terlihat seperti panggung pada umumnya.

Namun semen yang menutupi permukaan panggung seluas kira-kira 7 meter x 3 meter itu dihiasi mural aneka warna. Namun, siapa sangka panggung itu bermula dari sebuah Instalasi Pembuangan Air Limbah (IPAL) komunal yang disulap lewat tangan kreatif.

IPAL sedalam 10 meter itu dibangun menggunakan Dana Alokasi Khusus (DAK) 2018 Program Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Sehat Sejahtera Desa Kacangan, Andong.

Setelah rampung, IPAL kemudian dihias dengan aneka bentuk mural oleh Rosyid Yos, perupa lokal asli Andong jebolan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Mengerjakan gambar mural pada IPAL menjadi perwajahan baru seni rupa di daerah. Hal ini dia lakukan untuk memasyarakatkan seni rupa pada warga lokal.

Memang, diakuinya kesadaran menghargai nilai seni kini masih rendah. Rosyid tak sendiri, ruang kreativitas itu digarapnya bersama dua orang lain yang sama-sama bergelut di seni rupa.

Dia menggabungkan aliran seni realisme lewat gambar presiden pertama Indonesia, Sukarno, sebagai gambar utama yang menghiasi panggung secara vertikal. Dalam gambar itu, Rosyid menggambarkan sosok Sukarno dengan jas, peci, dan dasi.

Layaknya penampilan sang proklamator yang kerap dijumpai dalam album foto. Laki-laki gondrong itu juga menggabungkan motif batik parang, mega mendung, dan gambar kupu-kupu dalam satu media tanpa sekat. Tujuannya, menjadi ekspresi kebebasan bagi siapa saja yang akan menggunkan panggung tersebut.

Terakhir, di bagian samping, Rosyid menggambar sesosok perempuan berambut panjang. Perempuan Bali, begitu Rosyid menyebutnya, digambarkan ikut mekar bersama sekuntum bunga.

“Kalau yang begitu bisa dibilang aliran surealisme,” ujar dia ketika berbincang dengan Solopos.com, Rabu (9/1/2019) pagi. Total, untuk menggambar semua bagian panggung Rosyid telah mengucurkan dana sebesar Rp5 juta.

Meski demikian pembangunan panggung itu belum selesai. Rosyid berencana menambahkan lampu pentas secara bertahap. Selain itu sisi belakang panggung juga akan dipasangi pagar yang terbuat dari limbah kayu. Ke depan, IPAL akan dilengkapi dengan sepetak taman bunga. Semua aksesoris di dalamnya akan dikreasi dari limbah.

Sementara itu, seorang pengendara motor, Wuryaningsih mengatakan sangat penasaran dengan pembangunan yang terletak tepat di depan Balai Desa Kacangan itu. “Setiap hari lewat ada yang sedang dilukis, tapi tidak paham apa,” tutur dia.