Batik Karya Difabel Boyolali Binaan Pertamina Tembus Mancanegara

Sejumlah pemain basket nasional mencoba membuat batik tulis pada acara tasyakuran diraihnya Proper Emas 2018 bagi PT Pertamina Persero TBBM Boyolali di loksi workshop Sriekandi Petra, Desa Tawangsari, Kecamatan Teras, Boyolali, Selasa (8/1 - 2019).(Solopos/Akhmad Ludiyanto)
10 Januari 2019 11:07 WIB Akhmad Ludiyanto Boyolali Share :

Solopos.com, BOYOLALI—Batik tulis karya difabel Desa Tawangsari, Kecamatan Teras, Boyolali tembus ke pasar Jepang, Kanada, dan Australia. Hal tersebut diungkapkan Operation Head (OH) PT Pertamina Persero, Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) Boyolali TBBM Boyolali Abdul Wahid Nayu saat acara tasyakuran di lokasi workshop batik tulis Sriekandi Petra di desa tersebut, Selasa (8/1/2019). Sriekandi Petra merupakan kelompok difabel binaan TBBM Boyolali melalui program corporate social responsibility (CSR).

Tasyakuran itu digelar atas diraihnya Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan (Proper) 2018 untuk TBBM Boyolali dengan kategori emas dari Kementrian Lingkungan Hidup.

“Batik teman-teman difabel ini sudah tembus ke Jepang, Kanada, dan Australia. Sampai ada yang repeat [pembelian ulang] juga,” ujarnya didampingi Supervisor Healt Safety Security Environment TBBM Boyolali, M Iklas Mukodongan.

Menurutnya, keberhasilan para difabel ini merupakan prestasi yang patut diapresiasi, sehingga mendorong pihak lain untuk lebih berprestasi. Kelompok ini mendapat pendampingan dari TBBM Boyolali sejak 2016 dalam rangka pemberdayaan difabel, khsusunya dalam produksi kain batik tulis.

Sementara itu, Iklas menambahkan, selain dibekali keterampilan, melalui para pendamping, kelompok yang beranggotakan lima orang ini juga dibantu dalam pemasaran. “Selain sudah berhasil memasarkan ke luar negeri, 2018 mereka sudah pameran di Inakraft juga. Rencananya ke depan kami akan tambah jumlah difabel yang kami ajak bergabung, diserta penjajakan keterampilan lainnya,” ujarnya.

Di sisi lain, syukuran itu juga dihadiri pemain basket nasional antara lain Abramam Yonas dan Stevan Neno dari Hang Tuah, Sandi dan Muammad Diya Ulhab dari Satria Muda Pertamina, serta Kaleb Ramot Gemilang dan Abramam Damar Grahita dari Setapak Jakarta.

Mereka juga berkesempatan menggoreskan cairan malam ke kain yang sudah berpola. Sebagian mengaku bahwa membatik adalah pekerjaan sulit, sehingga produknya layak dujual dengan harga tinggi. “Ternyata sulit sekali membuat bati tulis itu. Kita jadi bisa lebih menghargai hasil karya orang lain,” ujar Abraham Damar.