Resah Agama Jadi Bahan Kampanye Pemilu, Warga Soloraya Demo

Massa membentangkan spanduk mengecam penggunaan agama sebagai bahan kampanye politik di depan Kantor Bawaslu Solo, Jumat (11/1/2019). (Solopos - Ratih Kartika)
11 Januari 2019 15:35 WIB Ratih Kartika Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Aliansi Masyarakat Damai Soloraya melakukan aksi longmarch dari Lapangan Kota Barat menuju ke Kantor Bawaslu Kota Solo di Jl. Panembahan No. 2, Kelurahan Penumping, Laweyan,  Jumat (11/1/2019).

Aksi tersebut dilatarbelakangi keresahan warga atas penggunaan agama sebagai bahan kampanye pemilu, baik pemilu legislatif maupun pemilu presiden. Pantauan Solopos.com,  massa aksi berjalan sambil menyanyikan lagu Darah Juang dan membentangkan spanduk-spanduk di depan Kantor Bawaslu Solo. 

Pada pukul 09.15 WIB, Ketua Bawaslu Solo, Budi Wahyono, menyambut koordinator aksi,  Hafidz Budi Raharjo.  Massa di depan kantor masih terus menyerukan aksi dengan damai.

Aparat Polresta Surakarta juga membagikan air mineral dalam gelas kepada peserta aksi.  Peserta khidmat menyanyikan lagu Darah Juang. Di sela-sela lagu tuntutan-tuntutan dibacakan. 

Koordinator aksi, Hafidz Budi Raharjo,  mengatakan rentetan peristiwa politik Tanah Air selama ini menunjukkan fenomena malpraktik politisasi agama. Semestinya konten politik bukan konten politisasi agama,  melainkan penguatan tenunan ke-Indonesia-an.

Di dalamnya juga terdapat konsep toleransi,  keanekaragaman budaya, agama, ras, yang di dalamnya merupakan kebersamaan dan kesetaraan yang di bawah naungan konstitusi Negara Kesatuan Republik Indonesia.

"Melihat fenomena tersebut kami menyerukan kepada Bawaslu Solo untuk: Stop [hentikan] politisasi agama,  Stop politik identitas,  stop hoaks!" seru Hafidz di depan Kantor Bawaslu,  Solo dan didampingi Ketua Bawaslu Solo,  Jumat. 

Massa aksi juga menyerukan kepada penyelenggara Pemilu untuk bersikap tegas terhadap kontestan Pemilu terutama kegiatan politik yang berkedok agama. Masyarakat Soloraya mendukung Pemilu yang damai dan  mengimbau masyarakat cerdas menanggapi segala isu yang berpotensi memecah belah bangsa dan persatuan NKRI.

"Kami menghimbau kepada elite politik agar tidak menggunakan unsur SARA [suku,  agama,  ras,  dan antargolongan], dan politik identitas untuk mencapai tujuannya. Berpolitiklah yang santun, "

Ketua Bawaslu Solo,  Budi Wahyono, setelah menemui koordinator aksi,  mengatakan berterima kasih kepada Aliansi Masyarakat Damai Soloraya. Aliansi Masyarakat Damai Soloraya memiliki satu napas, satu komitmen terhadap apa yang diperjuangkan Bawaslu.

"Jadi lembaga kami [Bawaslu]  senantiasa melakukan pencegahan terkait giat kampanye yang dilakukan, baik paslon,  caleg,  untuk kemudian mereka tidak menggunakan orasi politik besar.  Karena kami senapas,  sebangun dengan apa yang diperjuangkan dengan aliansi Masyarakat Soloraya,  tentu kami menginginkan perjuangan tidak hanya sampai di sini.  Kawal terus dengan beraksi di Kota Solo  sehingga hajatan demokrasi ini menebarkan banyak kebajikan," kata Budi kepada wartawan,  Jumat. 

Peserta aksi dari Masayarakat Solo Cinta Damai,  Ahmad Farid Umar Assegaf, berharap Bawaslu melakukan tindakan atas kelakuan dari kedua pasangan calon (paslon) jika menggunakan agama sebagai bahan kampanye. 

Farid menyatakan kedua paslon tersebut juga membuat berita hoaks.  "Kami tidak berpihak pada paslon mana pun. Ada timses yang memfitnah calon lain, ini meresahkan masyarakat. Jokowi dituduh katanya PKI,  Prabowo dituduh katanya China. Itu terus yang didengungkan tiap hari," ujar Farid, Jumat. 

Setelah diterima Ketua Bawaslu Solo,  massa kemudian membubarkan diri dengan menyanyikan lagu Padamu Negeri.  Peserta aksi tersebut berasal dari Wonogiri Bergerak,  Syarikat 98 Soloraya, Solo Damai,  Paguyuban Klaten Bersahabat,  Masyarakat Karanganyar Bersatu,  Rukun Guyub Sragen,  dan Boyolali Bermartabat.