Seusai Ricuh, Rutan Solo Gelar Khataman Alquran

Para penghuni Rutan Kelas 1 A Solo mengikuti acara khataman Alquran di rutan setempat, Jumat (11/1/1 - 2019). (Solopos/Ichsan Kholif Rahman)
11 Januari 2019 18:15 WIB Ichsan Kholif Rahman Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Setelah kericuhan antarwarga binaan, Kamis (10/1/2019), situasi Rumah Tahanan (Rutan) Kelas I A Solo berangsur kondusif. Bahkan, seratusan penghuni rutan itu sejak Jumat (11/1/2019) pagi mengikuti khataman Alquran.

Berdasarkan pantauan Solopos.com di Rutan Solo, kondisi rutan tampak sepi dari kunjungan, tidak ada kunjungan dari keluarga warga binaan. Tidak ada penjagaan ketat seperti saat kericuhan terjadi pada Kamis siang.

Di halaman depan Rutan terdapat pengumuman pada Jumat (11/1/2019) kunjungan keluarga ditiadakan dikarenakan situasi yang belum membaik seperti semula.

Sementara di pintu masuk Rutan hanya ada beberapa petugas sipir yang berjaga, tampak normal seperti biasa. Para warga binaan yang beragama muslim tampak telah bersiap mengikuti ibadah Salat Jumat.

Suara lantunan ayat-ayat Alquran terdengar dari masjid Rutan Solo. Saat itu, para Rutan sedang mengikuti khataman Alquran. Seluruh warga binaan membaca ayat suci dengan khidmat dengan mengenakan pakaian koko dan berkopiah.

Kepala Rutan Kelas 1 A Solo, Muhammad Ulin Nuha, saat ditemui Solopos.com di Rutan Solo, mengatakan pascakerusuhan suasana berangsur kondusif. Pada Jumat pagi setelah olahraga bersama, para warga binaan melaksanakan khataman Alquran.

“Kunjungan hari ini Jumat memang kami tiadakan, pengumuman telah dibuat sejak kemarin Kamis [10/1/2019]. Namun pada Sabtu [12/1/2019] sudah dibuka kembali untuk kunjugan warga binaan khusus narkoba,” ujarnya.

Ia menegaskan situasi telah kondusif dan telah dilakukan pengamatan pada seluruh warga binaan tidak ada warga binaan yang trauma. Menurutnya, program yang diberikan Rutan Solo telah dijalankan seluruh 646 warga binaan dengan baik.

Ia menambahkan akibat kericuhan yang terjadi antardua kelompok menyebabkan beberapa pot tanaman rusak. Namun, saat ini lokasi kericuhan telah dibersihkan oleh petugas Rutan.

Pada akhir 2018 juga terjadi kericuhan antara kedua kelompok di rutan tersebut. Kepala Rutan mengklaim kericuhan itu berawal dari kesalahpahaman yang kemudian selesai lewat mediasi.

Namun, informasi cekcok di dalam rutan tersiar hingga ke salah satu kelompok warga binaan hingga akhirnya para warga datang di depan rutan. Saat ini 12 tahanan dipindahkan di tiga lokasi yang berbeda yakni Lembaga Pemasyarakatan (LP) Kedungpane Semarang, Rutan Kelas II A Sragen, dan Rutan Kelas IIB Wonogiri.