Lahan Kritis Desa Sigit Sragen Disulap Jadi Agrowisata Kelengkeng

Kepala Desa Sigit, Kecamatan Tangen, Sragen, Wardoyo, berfoto selfie di antara tanaman kelengkeng yang mulai berbuah di kebun seluas lebih dari 4 hektare. (Istimewa - Dok. Pribadi Wardoyo)
12 Januari 2019 18:00 WIB Moh Khodiq Duhri Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN -- Secara geografis, kawasan di sebelah utara Bengawan Solo, tepatnya di kawasan Tangen dan Jenar, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, sebagian besar merupakan lahan kritis. Lahan ini tidak mendukung usaha pertanian terutama untuk pengembangan tanaman padi.

Paling banter, warga sekitar biasa memanfaatkan lahan itu untuk bertanam tebu. Namun, belakangan sejumlah petani di Desa Sigit, Kecamatan Tangen, punya cara berbeda untuk memanfaatkan lahan kritis di wilayah mereka.

“Kebetulan pada 2014, ada program dari Bappeda bernama PLKSDABM [Program Lahan Kritis Sumber Daya Alam Berbasis Masyarakat]. Syaratnya luas lahan yang tersedia minimal 4 hektare. Setelah mendapat informasi itu, kami langsung mengajukan proposal. Kami ingin kawasan di utara Bengawan Solo itu bisa diperhitungkan seperti daerah lain,” jelas Kepala Desa Sigit, Wardoyo, kepada solopos.com, Selasa (8/1/2019).

Pada awalnya terdapat 400 bibit kelengkeng bantuan dari program PLKSDABM yang ditanam di tanah kas desa. Terdapat empat jenis tanaman kelengkeng yang ditanam. Tiga di antaranya berjenis kelengkeng pingpong, kelengkeng itoh, dan kelengkeng durian.

Tanaman kelengkeng itu dirawat oleh petani penyewa tanah kas desa. “Bibitnya gratis, tapi petani diminta secara swadaya membuat tower untuk bak pengairan. Tapi, pada dasarnya kondisi lahan sudah subur sehingga tower air itu malah jarang dimanfaatkan,” terang Wardoyo.

Selain tanaman kelengkeng, ada pula bibit tanaman durian yang ditanam di lokasi. Namun, kondisi tanah kurang cocok untuk pengembangan buah durian sehingga tanaman itu akhirnya mati dengan sendirinya.

“Di sini itu suhunya agak panas. Untuk ditanami durian, ketinggian tanahnya masih kurang 40 meter di atas permukaan laut,” papar Wardoyo.

Pada tahun kedua setelah ditanam pada 2014 lalu, tanaman kelengkeng itu sudah mulai berbuah. Namun, para petani belum tahu bagaimana cara merawat tanaman kelengkeng yang mulai berbuah itu. Mereka membiarkan tanaman itu berbuah, namun mereka tidak bisa merasakan panen.

“Petani gagal panen karena buah kelengkeng itu habis diserbu oleh kelelawar setiap malam. Pada tahun ketiga, petani melakukan inovasi dengan memasang kerodong untuk melindungi buah kelengkeng dari serbuan kelelawar. Hasilnya, mereka sudah bisa merasakan panen,” terang Wardoyo.

Diakui Wardoyo, keberadaan kebun kelengkeng seluas lebih dari 4 hektare itu menarik minat wisatawan. Banyak warga yang datang karena merasa penasaran dengan kebun kelengkeng tersebut. Atas dasar itu, memasuki 2019 ini, Pemdes Sigit berniat mengembangkan kebun kelengkeng itu sebagai agrowisata.

Dalam waktu dekat, Pemdes Sigit akan berembuk dengan BUMDes, petani dan warga sekitar untuk membahas rencana pengembangan agrowisata tersebut.

“Sekarang tanaman ini sudah mulai berbunga. Kemungkinan 1-2 bulan ke depan sudah mulai panen. Nah, kami harap saat panen nanti potensi agrowisata sudah bisa dikelola dengan baik,” papar Wardoyo.