Petani Muda Wonogiri Langka, Netizen: Beras Saja Impor

Ilustrasi area persawahan - Bisnis/Nurul Hidayat
12 Januari 2019 07:00 WIB Chelin Indra Sushmita Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI Angka urbanisasi yang tinggi mengakibatkan Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, kekurangan tenaga kerja produktif. Dampak tingginya urbanisasi terpampang nyata di Desa Bumiharjo, Nguntoronadi, Wonogiri. Hampir tidak ada petani muda di desa tersebut.

Diberitakan Solopos.com sebelumnya, jumlah warga Desa Bumiharjo yang merantau per November 2018 sebanyak 405 orang. Jumlah itu terdiri atas 180 laki-laki dan 225 perempuan. Dalam periode yang sama, Desa Bumiharjo memiliki penduduk 1.853 jiwa terdiri atas 935 laki-laki dan 918 perempuan.

Tingginya urbanisasi tersebut membuat petani di Desa Bumiharjo, Wonogiri, kesulitan mencari tenaga tanam yang produktif. Hampir semua tenaga kerja produktif dan kreatif memilih merantau untuk mencari pekerjaan di kota.

Kabar soal kurangnya jumlah petani muda di Wonogiri mendapat beragam tanggapan netizen. Menurut warganet, keputusan pemuda Wonogiri merantau cukup masuk akal. Sebab, petani saat ini seringkali rugi karena impor beras yang dilakukan pemerintah.

"Buat apa jadi petani kalau beras pun impor," komentar Julian Andryanto Mustafa.

"Petani sekarang enggak untung, tapi malah buntung. Harga jual enggak stabil. Jadi, anak muda tidak tertarik untuk melirik jadi petani. Mending ke pabrik, setiap bulan dapat gaji," komentar Syariefudin Arief.

"Indonesia darurat petani," imbuh Khairul Amri.

"Saat tanam harga tinggi, saat panen harga anjlok. Kalau di-hitung2, bertani itu cuma balik modal. Semoga ke depan pemerintah bisa lebih serius memperhatikan nasib petani," imbuh Roe Zie Classic.