Bengawan Solo Dibangun Parapet, BPBD Sukoharjo Malah Khawatir Banjir

Parapet Bengawan Solo di wilayah Semanggi, Pasar Kliwon, Solo, saat proses pembangunan beberapa waktu lalu. (Solopos/Dok)
13 Januari 2019 16:15 WIB Indah Septiyaning Wardhani Sukoharjo Share :

Solopos.com, SUKOHARJO -- Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sukoharjo mulai mewaspadai bencana banjir akibat meluapnya Sungai Bengawan Solo.

Selain tingginya curah hujan, banjir semakin diwaspadai lantaran Bengawan Solo wilayah Kota Solo kini telah dibangun parapet sebagai penahan banjir limpahan dari hulu.

Kepala Pelaksana BPBD Sukoharjo Sri Maryanto, mengatakan pembangunan parapet di wilayah Kota Solo secara otomatis bakal berdampak pada kondisi wilayah Sukoharjo yang berada di bantaran Sungai Bengawan Solo.

Hal itu karena wilayah Sukoharjo belum diparapet sebagai penahan banjir akibat meluapnya Sungai Bengawan Solo. Tiga kecamatan dipetakan menjadi langganan banjir luapan Bengawan Solo adalah Mojolaban, Polokarto, dan Grogol.

Selain itu dua kecamatan lain juga terdampak banjir akibat derasnya hujan yakni Sukoharjo dan Weru. “Kami waspadai banjir di bantaran Bengawan Solo, kini ancamannya [banjir] semakin besar karena belum diparapet,” katanya ketika berbincang dengan Solopos.com, Minggu (13/1/2019).

Dia meminta warga di wilayah bantaran Sungai Bengawan Solo meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman bencana banjir. Sesuai prakiraan cuaca dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), curah hujan tinggi akan terjadi hingga akhir bulan ini.

Berbagai upaya penanggulangan banjir dilakukan BPBD Kabupaten Sukoharjo bersama Organisasi Perangkat Daerah (OPD) lain. Selain menyiapkan berbagai peralatan seperti pompa air dan perahu karet, BPBD juga menyiapkan logistik jika terjadi banjir.

“Kami juga mengimbau warga mengamankan barang-barang penting seperti sertifikat tanah, surat berharga lainnya di tempat aman dari banjir. Jadi ketika banjir, surat berharga sudah diamankan,” katanya.

Selain itu mempersiapkan beberapa pakaian bersih dalam satu tas sehingga jika terjadi banjir tidak kerepotan mencari pakaian bersih. Saat ini, elevasi Sungai Bengawan Solo terus dipantau.

BPBD Sukoharjo juga berkoordinasi dengan daerah lain, seperti Wonogiri dan Klaten untuk memantau curah hujan di daerah tersebut. Selain potensi banjir, BPBD meningkatkan kewaspadaan ancaman bencana tanah longsor dan angin puting beliung.

Beberapa daerah rawan longsor telah dipetakan yakni di Weru, Bulu, dan Tawangsari. Pemantauan semakin diintensifkan dengan pengecekan langsung ke semua wilayah sampai di tingkat desa atau kelurahan.

Dia mengatakan siaga kebencanaan tidak hanya pada pantauan kondisi alam. Kesiapan personel atau sukarelawan dari Tagana, TNI, Polri, dan instansi terkait juga ditingkatkan.

Dandim 0726/Sukoharjo Letnan Kolonel Chandra Ariyadi Prakosa belum lama ini mengatakan mulai mewaspadai berbagai ancaman bencana seperti banjir dan tanah longsor yang sewaktu-waktu bisa terjadi di Kabupaten Sukoharjo memasuki musim penghujan ini.

Selain menyiagakan personel, Dandim menyiapkan berbagai peralatan penanganan bencana, di antaranya perahu karet. “Personel disiagakan satu kompi yang on call 24 jam nonstop di Barak Siaga. Jadi begitu ada bencana banjir atau lainnya pasukan ini langsung bergerak,” kata dia.

Beberapa wilayah rawan bencana baik langganan banjir maupun longsor tahunan telah dipetakan. Daerah rawan banjir dipetakan berada di aliran sungai dan anak Sungai Bengawan Solo, serta wilayah selatan Kabupaten Sukoharjo yang merupakan kawasan perbukitan dipetakan rawan longsor.

Daerah-daerah tersebut mendapat pengawasan ekstra selama musim penghujan ini. “Kami terus memantau info perkembangan cuaca dari BMKG dan meminta seluruh jajaran Kodim hingga di tingkat Koramil untuk siaga bencana. Termasuk dengan adanya Barak Siaga ini, kami bisa lebih menyiagakan personil untuk penanganan cepat kebencanaan,” katanya.