Begini Alasan Warga Tak Mengenal Batasan Olahraga

Kegiatan mini semniar bertema Membangkitkan Olahraga Prestasi di Sekolah di Stikes Nasional, Grogol, Sukoharjo, Minggu (13/1 - 2019). (Solopos/Indah Septiyaning W)
13 Januari 2019 22:40 WIB Indah Septiyaning Wardhani Sukoharjo Share :

Solopos.com, SUKOHARJO—Tren olahraga meningkat di kalangan masyarakat dalam beberapa tahun terakhir. Jenis olahraga dari lari hingga bersepeda menjadi tren warga. Namun, tidak jarang orang tidak mengetahui batasan mana olahraga dan kemanfaatanya.

Dosen Fisioterapi Sekolah Tinggi Kesehatan (Stikes) Nasional Solo, Binuko Amarseto, menilai tak sedikit masyarakat yang memahami tentang olahraga. Hal ini mengakibatkan masyarakat salah kaprah saat berolahraga. Padahal yang terpenting saat akan berolahraga haruslah melihat kemanfaatannya.

“Tentukan dulu tujuan berolahraga untuk apa? Sehingga latihan yang dilakukan pun tepat. Namun, kini banyak yang hanya asal berolahraga,” kata dia saat menjadi pembicara dalam Mini Seminar Membangkitan Olahraga Prestasi di Sekolah di Kampus II Stikes Nasional Solo di Jalan raya Baki-Solo, Grogol, Sukoharjo, Minggu (13/1/2019).

Dia mengatakan orang yang tidak tepat berolahraga bahkan berlebihan olahraga ternyata bukan sehat yang didapat, justru daya tahan tubuh menurun sehingga tidak mencapai kemanfaatan olahraga itu sendiri.

Menurut dia, olahraga tidak hanya mengandalkan fisik, namun juga otak. Beragam jenis olahraga yang ada memiliki kemanfaatannya masing-masing. Karena itu penting untuk menentukan lebih dulu tujuan berolahraga. Ketika orang salah berolahraga sangat jelas akan mendapatkan tujuan yang bertolak belakang dari tujuannya mendapatkan kesehatan dan kebugaran.

“Maka ketika mendapatkan tanda-tanda belum adanya kemanfaatannya jangan ragu untuk menurunkan frekuensi, durasi, intensitas atau bahkan mengganti jenis olahraga. Misalnya tujuan olahraga pembentukan otot, ya olahraga yang dilakukan disesuaikan dengan itu seperti fitness,” jelas dia.

Dia juga menyayangkan anggapan banyak orang salah berolahraga berakibat pada risiko cedera. Pandangan itu, menurut dia, perlu mulai ditinggalkan. Tidak hanya risiko cedera yang didapat, melainkan juga tujuan kemanfaatan yang tidak tercapai. Selain itu dia mengingatkan agar masyarakat berolahraga sesuai dosis atau porsinya. “Jadi antara olahraga pemula dan profesional itu berbeda. Harus tahu mengenai hal-hal seperti itu sehingga kembali lagi pada tepat kemanfaatannya,” papar dia.

Dosen Farmasi Stikes Nasional Solo, Dian Puspitasari, mengatakan fenomena saat ini olahraga tidak hanya mencari kesehatan belaka, namun juga untuk mendapatkan tubuh ideal. Tak jarang dari mereka memenuhinya dengan mengonsumsi suplemen tambahan.

“Nah yang terpenting saat mengonsumsi suplemen ini harus disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing. Jangan sampai kebutuhan gizi dari makanan dan lainnya sudah tercukupi, namun masih ditambah suplemen dan ini justru berbahaya bagi tubuh,” jelas dia.

Selain mini seminar juga dilaksanakan meet and great bersama Satya Wacana Basketball Team. Dalam kesempatan ini peserta seminar mengikuti sesi foto bersama para pemain basket tersebut.