Pandai Besi dan Cerita Awal Munculnya Desa Pandeyan Sukoharjo

Suasana jalan perdesaan di depan Kantor Kepala Desa Pandeyan, Kecamatan Grogol, Sukoharjo, Sabtu (12/1/2019). (Solopos - Bony Eko Wicaksono)
13 Januari 2019 21:15 WIB R Bony Eko Wicaksono Sukoharjo Share :

Solopos.com, SUKOHARJO -- Pandeyan merupakan salah satu desa di Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo. Wilayah Desa Pandeyan berbatasan langsung dengan Desa Pranan, Kecamatan Polokarto.

Sebagian besar masyarakat desa itu bekerja sebagai petani dan pedagang. Mereka sangat mengandalkan lahan pertanian untuk menopang kebutuhan hidup sehari-hari.

Di balik kemajemukan karakteristik masyarakat itu, Pandeyan menyimpan histori yang cukup menarik. Konon nama desa itu berasal dari pandai yang bermakna tukang tempa besi untuk membuat berbagai peralatan seperti cangkul dan arit.

Asal usul desa ini tak bisa dipisahkan dengan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Konon ceritanya dulu ada rombongan kerabat Keraton Solo hendak mencari tanah subur untuk bercocok tanam. Mereka berjalan kaki puluhan kilometer menuju selatan.

“Rombongan kerabat Keraton menyeberangi Sungai Bengawan Solo untuk mencari tanah subur. Mereka berjalan kaki mulai pagi hari hingga petang hari,” kata seorang sesepuh Desa Pandeyan, Sukarto, saat berbincang dengan Solopos.com, Sabtu (12/1/2019).

Rombongan kerabat Keraton berjalan kaki tanpa henti selama berhari-hari. Sesekali mereka beristirahat untuk melepas lelah di bawah pohon rindang. Kala itu, mereka hampir putus asa lantaran tak kunjung menemukan lokasi tanah subur.

Mereka akhirnya menemukan tanah lapang di pinggir sungai kecil. Tanah lapang itu dikelilingi pepohonan besar dan rindang.

“Kondisi tanahnya sangat subur lantaran dekat dengan sungai. Mereka beristirahat di tanah lapang itu selama beberapa hari. Bahkan, ada yang menetap di lokasi itu,” tutur dia.

Lambat laun banyak masyarakat yang melewati lokasi tanah lapang itu. Mereka juga ingin menetap di lokasi itu lantaran tanahnya subur. Mereka membangun rumah tak jauh dari tanah lapang itu.

Beberapa warga bercocok tanam di tanah lapang itu. Mereka mencari dan mengumpulkan bahan besi untuk dibuat cangkul.

“Ada beberapa orang yang mahir membuat cangkul dan arit. Kemahiran membuat alat-alat yang terbuat dari besi ditularkan kepada warga lainnya,” tutur Sukarto.

Hampir setiap warga yang menetap di lokasi itu mampu membuat cangkul dan arit sendiri. Warga setempat bisa memanen padi yang hasilnya dijual ke pasar tradisional. Mereka mendapat penghasilan dari bercocok tanam di tanah subur itu.

Hingga sekarang, masih ada beberapa warga setempat yang bisa membuat mata cangkul. Namun, mereka membuat mata cangkul hanya jika ada pesanan.

“Tidak setiap hari membuat mata cangkul. Hanya jika ada pesanan dari sesama petani,” kata Sarwiji, seorang warga setempat.