10 Menit Yang Mencekam di Dawung dan Mlale Sragen

Dua orang warga memperbaiki atap rumah warga di lingkungan Dukuh Pindi, Desa Mlale, Jenar, Sragen, yang rusak diterjang puting beliung, Minggu (13/1/2019). (Solopos - Tri Rahayu)
13 Januari 2019 19:15 WIB Tri Rahayu Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN -- Puluhan lembar asbes di atap rumah milik Jaman, 51, di Dukuh/Desa Dawung, Jenar, Sragen, hilang. Rumah di ujung utara lingkungan RT 005 itu dalam kondisi terbuka tanpa atap.

Dari 70-an lembar asbes yang terpasang tinggal 40-an lembar yang menempel di atap rumah berdinding tembok itu.

“Ada 30 lembar asbes yang kabur terbawa puting beliung kemarin sore [Sabtu, 12/1/2019]. Saat itu saya bersama istri saya [Jumiyem, 48] dan anak saya [Nuryadi, 25] lari keluar rumah. Situasinya gelap dan jarak pandang hanya 1-2 meter. Padahal saat itu masih pukul 16.30 WIB. Kami pegangan tembok, tapi tembok itu bergetar seperti gempa. Bangunan teras rumah ini sudah terbalik. Kayunya di atas, dan asbesnya pecah di bawah,” kisah Jaman saat bertemu Solopos.com di depan rumahnya, Minggu (13/1/2019) siang.

Jaman sempat berlari ke belakang dan baru sampai di kamar mandi belakang ternyata struktur atap kamar mandi juga ikut terbawa angin. Ia, istri, dan anaknya hanya bisa pasrah berlindung di tempat yang ada saat itu.

Peristiwa mencekam itu berlangsung 10 menit. Ia melihat arah angin berwarna abu-abu itu dari arah timur laut.

Angin kencang itu memorak-porandakan pepohonan di wilayah Dukuh Dawung. Ratusan pohon jati yang tumbang bercampur dengan pohon bambu yang melintang di jalan.

Bahkan ada pohon yang menimpa rumah warga meskipun hanya berdampak pada atap rumah yang rusak. Seperti rumah milik Agung yang hanya berjarak 100 meter dari rumah Jaman dan rumah milik Mbah Rasit, 90, sekitar 150 meter dari rumah Jaman tetapi masuk wilayah RT 006.

Bukan hanya itu, rumah milik Ngadi, 60, di lingkungan RT 011, Sumberejo, juga tertimpa pohon jati sebanyak tiga batang. Beruntung tiga pohon jati yang tumbang itu hanya mengenai dapur dan kamar mandi.

“Saya baru tahu dapur rumah belakang tertimpa pohon itu ya baru pagi ini [Minggu]. Jati berdiameter 30 cm itu kalau dipotong-potong bisa untuk memperbaiki atap dapur yang rusak itu,” kata Ngadi.

Di depan rumah Ngadi, yakni rumah milik Giyono di RT 010, Dawung, digunakan untuk posko penanganan evakuasi akibat puting beliung. Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sragen Sugeng Priyono, bersama Kapolsek AKP Handoyo, dan Camat Jenar Edi Widodo berkoordinasi menentukan strategi penanganan.

Minggu siang itu, Sugeng membagi tugas tim SAR yang ada untuk menyisir lokasi yang masih membutuhkan penanganan. Selain itu BPBD menyerahkan bantuan 1.000 genting yang bisa digunakan warga untuk memperbaiki genting yang rusak serta bantuan logistik pangan untuk kerja bakti.

Bantuan genting juga datang dari Lazismu Jenar sebanyak 1.500 biji. Tim yang dikoordinasi Kapolsek dan Camat Jenar berangkat menuju Desa Mlale yang juga terkena dampak puting beliung.

Di sana ternyata warga sudah sigap bergotong-royong untuk memperbaiki rumah. Salah satu rumah yang diterjang puting beliung milik Supardi, 56, di Dukuh Pindi RT 013, Mlale, Jenar.

“Saat angin datang itu hanya saya dan anak saya yang di rumah. Awalnya saya melihat pohon jati di tengah kebun tumbang. Kami lari keluar rumah ternyata pohon di depan rumah tumbang mengenai atap rumah. Saya lalu ke selatan ternyata ada pohon juga yang tumbang. Akhirnya kami lari ke utara yang tidak ada pohonnya,” ujar Menik, 42, istri Supardi saat ditemui Solopos.com, Minggu siang

Dia bersyukur karena masih selamat. Kejadian Sabtu sore itu dia rasa benar-benar mencekam.