Mengapa Orang Mudah Percaya Hoaks?

Ratna Sarumpaet memberikan klarifikasi terkait pemberitaan penganiyaan terhadap dirinya di Kediaman Ratna Sarumpaet, Kawasan Bukit Duri, Jakarta, Rabu (3/10 - 2018). (Antara / Galih Pradipta)
15 Januari 2019 05:00 WIB Mariyana Ricky Prihatina Dewi Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Hoaks yang menarik perhatian pada 2018 adalah kasus Ratna Sarumpaet yang mengaku dikeroyok sejumlah orang. Informasi itu menyebar cepat, dari kanal berita ke media sosial ke layanan perpesanan ke mulut satu ke yang lain secara terus-menerus.

Beberapa hari kemudian Ratna mengaku berbohong. Informasi yang disampaikannya palsu. Tapi beberapa kalangan telanjur percaya. Dampak informasi tersebut sampai sekarang masih terasa.

Menurut dosen psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Berliana Widi Scarvanofi, informasi palsu atau kabar bohong mudah menyebar karena sifat dasar manusia yang mencari sesuatu berdasarkan preferensinya. Ia hanya menaruh perhatian pada apa yang dipercaya meski informasi itu palsu. Akhirnya, menjadi bias informasi. Mereka enggan mengecek kebenaran, terlebih jika dia berada dalam kelompok dengan preferensi sama.

”Hal yang sama bisa terjadi jika dalam kelompok itu ada yang berani mengungkapkan ketidaksetujuannya hingga melakukan langkah ekstrem seperti menghujat. Ini akan mendorong anggota kelompok itu melakukan hal yang sama. Seperti meng-encourage [mendorong]. Lalu dia menyebarkan informasi itu ke yang lain,” kata dia saat dijumpai Solopos.com di ruang kerjanya, Jumat (11/1/2019).

Selain itu, sambung Berlin, manusia juga memiliki keterbatasan ketika mengakses informasi. Jika sudah mendapatkan informasi dari media A, orang itu dipastikan tak lagi mencari alternatif informasi lain dari media B.

Psikiater dari Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) dr. Arif Zainudin Solo, Adriesti Herdaetha, mengatakan terpaparnya hoaks secara terus-menerus bisa membuat seseorang terkena gangguan jiwa. Kendati begitu, untuk benar-benar menetapkan orang tersebut terganggu jiwanya harus melalui beberapa diagnosis.

”Kalau sudah sampai mengganggu kehidupan sosial artinya sudah gangguan jiwa. Bisa jadi hoaks salah satu penyebab, tapi harus tahu juga pencetus lainnya. Seperti gangguan jiwa waham, tidak lagi bisa membedakan kenyataan dan halusinasi, jadi case by case. Enggak langsung kalau terus terpapar hoaks itu bisa menyebabkan gangguan jiwa, itu enggak,” jelas Adriesti.

Ihwal gangguan jiwa pada penyebar hoaks, dokter spesilias kedokteran jiwa itu menyebut hal itu belum tentu. Menurut Adriesti, orang dengan gangguan jiwa yang menyebar informasi bohong mayoritas tidak sadar. Adriesti menganggap hal itu wajar karena kebohongan yang dilakukannya tanpa tujuan. Sedangkan hoaks yang disebarkan jamaknya memiliki tujuan.

”Kasus Ratna Sarumpaet itu dia enggak bisa dikatakan gangguan jiwa. Dia menyebar informasi itu agar orang percaya. Kalau gangguan jiwa malah enggak ada tujuan. Dia bohong, ya, bohong saja,” ucap Adriesti.

Menurut Adriesti, bohong tanpa tujuan karena menganggap kebohongannya itu wajar disebut mitomania atau phatological liar (pembohong patologis). Penderitanya berbohong tanpa sadar dan tanpa tujuan untuk menipu.

”Pengidapnya mengarang kebohongan yang sebenarnya enggak ada. Mengarang satu kebohongan, menutupinya dengan kebohongan lain. Dia cerita itu agar orang percaya saja atau enggak punya tujuan tertentu misalnya terkait dengan politik. Ia juga memanipulasi, membuat suatu pola. Merekontruksi kenyataan yang sebenarnya enggak ada atau dibuat ada untuk lari dari kenyataan yang dihadapi,” jelas Adriesti.