Begini Langkah Warga Bantaran Bengawan Solo di Sukoharjo Antisipasi Banjir

Kondisi salah satu rumah di bantaran Bengawan Solo di wilayah Mojolaban, Sukoharjo, Senin (14/1 - 2019). (Solopos/Indah Septiyaning W.)
15 Januari 2019 01:00 WIB Indah Septiyaning Wardhani Sukoharjo Share :

Solopos.com, SUKOHARJO -- Warga di bantaran Bengawan Solo yang masuk wilayah Sukoharjo waswas bencana banjir pada musim penghujan tahun 2019. Berbagai langkah dilakukan warga guna mengatasi banjir tersebut.

Warga Ngemplak RT 001/ RW 007, Desa Gadingan, Kecamatan Mojolaban, Sukoharjo, Surono, 55, mengaku mulai membangun tempat khusus di rumahnya. Tempat tersebut dibangun sederhana dengan menggunakan kayu yang ditata dilangit-langit bangunan rumah.

“Tempat ini untuk menyimpan barang-barang berharga. Jadi kalau hujan sudah tinggi dan sungai naik, barang-barang dinaikkan ke sini supaya aman,” katanya ketika dijumpai Solopos.com, Senin (14/1/2019).

Dia mengaku waswas jika hujan turun dengan intensitas tinggi selama hampir dua jam lebih. Hal ini dikarenakan aliran Sungai Bengawan Solo meningkat dan dikhawatirkan meluap ke permukiman penduduk. Selain mengamankan barang-barang berharga, warga menyiapkan lokasi dapur umum dan tenda untuk lokasi pengungsian selama banjir melanda. Banjir semakin membayangi warga mengingat wilayah Kota Solo telah dibangun parapet di sepanjang bantaran aliran Sungai Bengawan Solo.

“Jadi air tentu akan melimpah. Meski sudah menjadi langganan, namun warga tetap waswas saat banjir datang,” katanya.

Warga lain, Susanto juga menuturkan bersama warga lain mulai membangun tempat aman menyimpan barang berharga di masing-masing rumah. Selain itu barang berharga seperti surat nikah, sertifikat tanah maupun surat penting lainnya mulai disimpan di lokasi aman dari banjir.

“Surat-surat penting sudah ditaruh di atas lemari. Jadi kalau banjir tidak basah atau hilang,” katanya.

Warga, lanjut dia, akan langsung mengungsi ke tempat aman jika banjir mulai melanda. Biasanya warga akan mengungsi di atas tanggul dengan membangun tenda-tenda darurat hingga banjir surut.  

Camat Mojolaban Iwan Setiyono memetakan terdapat ratusan kepala keluarga (KK) rawan terdampak banjir luapan Sungai Bengawan Solo. Mereka lantaran tinggal di daerah bantaran Sungai Bengawan Solo. Beberapa daerah dipetakan potensi banjir di antaranya Desa Tegalmade, Plumbon, Gadingan, Palur, dan Laban.

“Gadingan dan Laban menjadi daerah paling rawan banjir, karena masih banyak hunian berada di dalam bantaran Sungai Bengawan Solo. Jumlah huniannya ada ratusan,” katanya.

Saat ini, dia mengatakan warga meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi banjir dengan siaga penuh selama 24 jam. Warga tersebut menjadi langganan banjir tahunan saat musim penghujan. Dengan kondisi ini, dia menilai warga lebih peka memahami dan mengetahui tanda-tanda akan datangnya bencana banjir. “Kami juga koordinasi secara terus menerus dengan BPBD [Badan Penanggulangan Bencana Daerah] untuk penanganan banjir. Seperti evakuasi, bantuan logistik dan lainnya,” katanya.