Petugas Damkar Bertaruh Nyawa di Tengah Sengatan Tawon Klaten

Petugas Damkar Klaten saat membasmi sarang tawon di Wedi, Minggu (13/1 - 2019) malam. Dalam dua tahun terakhir, jumlah korban meninggal dunia akibat diserang tawon mencapai tujuh orang. (Istimewa/Damkar Klaten)
15 Januari 2019 09:30 WIB Ponco Suseno Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN – Dalam dua tahun terakhir, petugas pemadam kebakaran (Damkar) Klaten memperoleh tugas tambahan. Tak hanya memadamkan kobaran api, puluhan anggota Damkar Klaten dituntut harus dapat membasmi sarang tawon gung alias vespa affinis.

Tugas tambahan itu “terpaksa” dijalankan petugas Damkar Klaten. Dalam satu tahun terakhir, petugas Damkar Klaten sudah membasmi sekitar 200-an sarang tawon. Jumlah itu jauh lebih besar dibandingkan kejadian kebakaran sendiri di Klaten yang mencapai 165 kejadian. Di antara sarang tawon yang dibasmi memiliki panjang hingga 1,5 meter. Salah penanganan sedikit saat membasmi tawon, nyawa taruhannya.

“Kami belajar membasmi tawon itu secara autodidak. Soalnya, memang tak ada yang mengajari. Makanya dalam penanganan di awal, kami masih sering disengat. Kalau tersengat, biasanya cukup dikasih obat antibiotik. Biasanya juga, rasa nyeri itu kami rasakan selama dua pekan [baru hilang],” kata salah satu petugas Damkar Klaten, Tri Hatmoko, saat ditemui Solopos.com, di kompleks pendapa Pemkab Klaten, Senin (14/1/2019).

Pekerjaan yang dilakukan Tri Hatmoko cs dinilai sungguh berisiko. Terlebih, sengatan tawon itu telah mengakibatkan tujuh korban meninggal dunia sepanjang 2017-2018. Semula, pembasmian sarang tawon biasa dilangsungkan siang hari. Setelah mengetahui tawon sering berkumpul di sarang saat malam hari, petugas Damkar pun sering membasmi di malam hari.

“Di tengah peralatan seadanya [pakaian tahan panas, blower, penyemprot nyamuk, dan lain sebagainya], kami biasanya membutuhkan waktu 1-2 jam untuk membasmi sarang tawon berukuran besar. Pakaian antipanas yang biasa kami kenakan seberat 5-6 kilogram. Hal ini membuat kami tak leluasa. Suhu di dalam [saat mengenakan pakaian] juga panas. Setelah membasmi, kami harus banyak minum air putih,” katanya.

Tri Hatmoko mengatakan tim Damkar Klaten baru saja membasmi sarang tawon di Kecamatan Wedi, Minggu (13/1//2019) malam. Pembasmian sarang tawon sepanjang 1,5 meter itu disaksikan langsung ahli toksikologi dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, Tri Maharani.

“Serangan tawon ini jangan disepelekan [secara sistematis dapat mengakibatkan gagal ginjal hingga meninggal dunia]. Kami apresiasi dengan upaya teman-teman Damkar Klaten yang bertaruh nyawa saat membasmi sarang tawon. Melihat jumlah yang ditangani di Klaten, ini akan menjadi bom waktu di Tanah Air. Ke depan, kami akan mendesain baju khusus untuk pembasmian sarang,” katanya.

Banyaknya sarang tawon di Klaten juga mengakibatkan warga di Kabupaten Bersinar waswas. Hal itu dialami bagi daerah yang terdapat sarang tawon.

“Di desa kami sudah dua kali kejadian [tawon menyerang warga] di tahun 2018. Kami sempat membawa ke rumah sakit, setelah itu disuruh pulang. Sampai di rumah gulung-gulung lagi [masih merasakan sakit karena penanganan dinilai kurang optimal]. Kami juga pernah meminta pengobatan alternatif. Kebetulan di desa ada yang punya keris. Setelah diobati secara alternatif, warga yang terkena sengatan itu justru sembuh. Kalau seperti ini bagaimana [model pengobatan alternatif],” kata Kepala Desa (Kades) Kedungampel, Cawas, yakni Tumirin.

Menyikapi hal itu, ahli toksikologi dari Kemenkes, Tri Maharani, menganjurkan warga yang tersengar tawon segera memeriksakan ke tim medis. “Lebih baik dicek medis [agar semuanya dapat diketahui berdasarkan hasil laboratorium],” katanya.