Bukan Salib, Desain Koridor Jensud Solo Terinspirasi Mataram Islam

Unggahan foto koridor Jensud depan Balai Kota Solo di akun Instagram pariwisatasolo. (Instagram)
16 Januari 2019 18:15 WIB Mariyana Ricky Prihatina Dewi Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Solo meminta masyarakat tidak berpolemik terkait desain penataan paving di koridor Jl. Jendral Sudirman (Jensud), khususnya yang di depan Balai Kota Solo.

Ketua MUI Solo, Subari, menyebut perdebatan soal desain yang disebut sejumlah warganet mirip bentuk salib itu muncul setelah dipotret dari udara. Padahal, proyek pemasangan batu andesit itu rampung sebelum Natal 2018.

“Dari foto yang beredar yang ditampakkan hanya bagian utara, depan Balai Kota, tidak sampai Gladak, karena memang belum dikerjakan. Ini pun yang melihat sengaja mengutak-atik, padahal panjang kotak empat sisi itu sama atau jauh dari simbol salib. Tampak panjang satu sisi itu karena ada garis median jalan warna merah, beserta water barrier-nya. Mestinya kalau mau melihat dari segala sisi. Dari samping, tampak Tugu Pemandengan, tampak estetikanya,” kata dia dalam jumpa pers di Balai Kota Solo, Rabu (16/1/2019).

Subari menyebut apabila desain itu benar berbentuk salib, umat Nasrani-lah yang berhak marah karena salib adalah simbol sakral yang harus dihormati dan tidak boleh diletakkan sembarangan.

“Ini malah dipasang di jalan dan diinjak-injak. Kalau mau utak-atik, apa saja bisa muncul dari desain itu. Janganlah mudah othak-athek gathuk menurut selera sebelum menanyakan ke desainernya.”

Sekretaris Dinas Perumahan Kawasan Permukiman dan Pertanahan Solo, Taufan Basuki Supardi, mengatakan pemasangan batu andesit dengan pola unik di kawasan itu justru terinspirasi filosofi Kerajaan Mataram Islam, yakni untuk menjelaskan hubungan antara Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Bangsal Pagelaran, dan Tugu Pemandengan.

Rencana besar desain di kawasan itu mencerminkan kearifan lokal berupa arah penjuru mata angin, bukan agama, termasuk memadukan dengan fungsi Balai Kota sebagai ruang publik.

Mosaik di lokasi itu merupakan satu kesatuan tak terpisahkan dengan area Bundaran Gladak yang saat ini belum dikerjakan. “Melihatnya jangan secara parsial, tapi secara keseluruhan desain. Karena saat ini pekerjaan baru pada tahap pertama, tentu belum terlihat ada dua point of interest di koridor tersebut,” ucap Taufan yang juga Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) proyek penataan koridor Jensud.

Kerabat Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, K.G.P.H. Puger, membenarkan hal tersebut. Ada delapan arah mata angin yang murni keluhuran budaya Jawa. Mata angin itu adalah utara, selatan, barat, timur, timur laut, tenggara, barat laut, dan barat daya.

“Garis lurusnya dari Bangsal Pagelaran ke Tugu Pemandengan, ada garis lurus imajiner menyerupai shiratal mustaqim sebagai pengingat Raja. Ketika Raja melihat dari Pagelaran ada banyak arah yang dituju, tapi filosofinya satu [garis lurus], tidak boleh meninggalkan perintah Allah,” ucap Puger.

Kapolresta Surakarta Kombes Pol. Ribut Hari Wibowo meminta masyarakat tidak menghabiskan energi untuk hal-hal yang berbau SARA. “Masih banyak tugas kita ke depan yang harus kita kerjakan. Saya imbau masyarakat tidak terprovokasi, masyarakat lebih bijak melihat suatu permasalahan dari sudut pandang yang lebih luas. Mari kita mendukung penataan kota jadi lebih baik,” kata dia yang diamini Wakil Wali Kota Solo Achmad Purnomo dan Dandim 0735/Surakarta Ali Akhwan.

Sebagaimana diinformasikan, penilaian desain paving Jl. Jenderal Sudirman depan Balai Kota mirip bentuk salib disampaikan warganet saat mengomentari unggahan gambar Tugu Pamandengan itu dari atas. Gambar itu awalnya diunggah akun Instagram @pariwisatasolo yang merupakan akun resmi Dinas Pariwisata Kota Solo dan diunggah ulang oleh akun @jelajahsolo.