Alat Peringatan Dini Longsor Karanganyar Rusak dan Hilang, Ulah Siapa?

Anggota BPBD Karanganyar memasang EWS di Dusun Buntung, Desa Gerdu, Kecamatan Karangpandan, belum lama ini. (Istimewa - BPBD Karanganyar)
16 Januari 2019 15:15 WIB Sri Sumi Handayani Karanganyar Share :

Solopos.com, KARANGANYAR -- Sejumlah alat early warning system (EWS) atau sistem peringatan dini longsor di sejumlah wilayah Kabupaten Karanganyar rusak.

Sejumlah komponen EWS diketahui tidak berfungsi bahkan ada yang hilang. Data yang dihimpun Solopos.com dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karanganyar menunjukkan sejumlah EWS rusak karena kawat penghubungnya putus, power supply rusak, terlalu sensitif bunyi sehingga terpaksa dimatikan agar tidak mengganggu warga, tidak ada aliran listrik, dan lain-lain.

Sejumlah EWS lainnya rusak karena beberapa komponen hilang. Kepala Seksi (Kasi) Pencegahan dan Kesiapsiagaan Bencana BPBD Karanganyar, Hartoko, menyampaikan komponen EWS hilang diduga diambil orang tidak bertanggung jawab.

Beberapa komponen itu memang laku dijual. Dia mencontohkan aki, kotak, panel solar cell, dan lain-lain.

"Enggak tahu berapa harganya. Tidak menuduh siapa dan siapa. Tetapi memang hilang," kata dia saat mendampingi Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) BPBD Karanganyar, Bambang Djatmiko, kepada wartawan, Rabu (16/1/2019).

Dia menunjukkan gambar EWS di sejumlah wilayah Karanganyar. EWS sebenarnya sudah diamankan dengan pagar pembatas. Tetapi masih saja ada komponen yang hilang. Padahal EWS berfungsi memberikan sinyal tanda bahaya saat akan terjadi tanah longsor.

Alat peringatan dini itu dipasang untuk mengurangi kerugian dan korban jiwa. Solopos.com menghitung ada 21 EWS di Kabupaten Karanganyar. Dari jumlah itu, delapan EWS rusak dan tiga EWS tidak diketahui keberadaannya.

EWS rusak berada di Desa Tengklik dan Ngledoksari di Kecamatan Tawangmangu, Desa Plosorejo dan Desa Gempolan di Kecamatan Kerjo, Desa Menjing di Kecamatan Jenawi, Desa Gerdu di Kecamatan Karangpandan, dan Desa Koripan di Kecamatan Matesih.

Kalakhar BPBD Karanganyar, Bambang Djatmiko, menyampaikan beberapa EWS itu merupajan bantuan dari BPBD Provinsi Jawa Tengah, BNPB, maupun akademisi. BPBD sudah berupaya menggandeng warga sekitar ikut menjaga EWS.

"Rusaknya karena dicuri, alih fungsi, kena binatang ternak, dan lain-lain. EWS dipasang di lokasi rawan bencana dan kami sudah minta bantuan warga untuk ikut merawat. Di sana ada komunitas warga yang merawat. Kini peralatan itu rusak dan belum diperbaiki. Harganya lumayan [mahal]," ujar dia.

BPBD berencana menggandeng akademisi untuk membuat EWS sederhana. Oleh karena itu, BPBD meminta bantuan Baperlitbang terkait mahasiwa KKN yang berkonsentrasi pada mitigasi bencana.

Selain mengandalkan EWS, BPBD juga mengandalkan jaringan informasi secara manual. "Sekarang ada EWS murah yang dikembangkan akademisi. Paling tidak bisa memberikan rasa nyaman kepada masyarakat. Kami sampaikan ke Baperlitbang kalau bisa tema KKN berkaitan kebencanaan. Harapan kami itu."

Hartoko menceritakan sekelumit cara kerja EWS. Sinyal EWS akan bekerja mengirimkan tanda ketika kondisi tanah atau gerakan tanah melewati batas aman yang ditentukan.

Pengawas di pos pemantau akan memberikan informasi kepada masyarakat. Peringatan itu memberikan waktu warga segara pindah ke tempat aman.