Pipa Limbah PT RUM Sukoharjo Di Sungai Gupit Patah

Pekerja memperbaiki pipa limbah cair PT Rayon Utama Makmur (RUM) yang patah di Kali Gupit, Desa Gupit, Nguter, Sukoharjo, Kamis (17/1/2019). (Solopos - Bony Eko Wicaksono)
17 Januari 2019 19:15 WIB R Bony Eko Wicaksono Sukoharjo Share :

Solopos.com, SUKOHARJO -- Pipa pembuangan limbah cair dari pabrik PT Rayon Utama Makmur (RUM) di aliran Kali Gupit, Desa Gupit, Kecamatan Nguter, Sukoharjo, patah.

Warga sekitar meminta manajemen PT RUM segera memperbaiki pipa limbah cair yang patah sejak pekan lalu itu. Saat ini, pekerja masih memperbaiki pipa limbah cair yang patah di tiga lokasi.

Informasi yang dihimpun Solopos.com, Kamis (17/1/2019), hujan lebat dengan intensitas tinggi mengguyur wilayah Nguter selama berjam-jam pada pekan lalu. Kala itu, ketinggian air naik secara signifikan hingga bibir sungai.

Pipa limbah cair pabrik yang memproduksi serat rayon itu ditimbun di dalam tanah tepat di dasar sungai dengan kedalaman sekitar 1,5 meter. Saking derasnya aliran sungai mengakibatkan pipa limbah cair patah di tiga lokasi.

Manajemen PT RUM langsung mengecek kondisi pipa limbah cair yang patah di aliran Kali Gupit. Pembina Masyarakat Peduli Lingkungan (MPL) Sukoharjo, Ari Suwarno, mengatakan petugas Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jateng mengecek kondisi air sungai pada akhir pekan lalu.

Mereka juga mengambil sampel air sungai untuk diuji laboratorium untuk mengetahui apakah tercemar limbah atau tidak. “Kami meminta agar manajemen PT RUM segera memperbaiki pipa limbah cair yang patah di aliran sungai. Warga khawatir terjadi pencemaran air sungai,” kata dia, saat berbincang dengan Solopos.com, Kamis.

Menurut Ari, tidak ada lahan pertanian milik warga yang tercemar limbah cair dari pabrik itu. Kendati demikian, ia menunggu hasil uji laboratorium sampel air sungai yang keluar dua pekan mendatang.

Saat ini, warga setempat masih mencium bau tak sedap dari pabrik hampir setiap hari. Bau tak sedap itu mengakibatkan pusing, mual, dan muntah-muntah.

“Saya minta agar manajemen PT RUM menghentikan uji coba produksi karena masih bau. Sosialisasikan terlebih dahulu kepada masyarakat baru uji coba produksi,” papar dia.

Sementara itu, Sekretaris PT RUM, Bintoro Dibyoseputro, menyampaikan penyebab pipa limbah cair patah lantaran saking derasnya aliran sungai. Dia langsung menindaklanjuti dengan mengerahkan pekerja untuk memperbaiki pipa limbah cair yang patah di tiga lokasi.

Dalam waktu dekat, manajemen PT RUM bakal memasang H2SO4 recovery yang bisa mengurai dan mendaur ulang H2S menjadi H2SO4 untuk produksi. “Selain wet scrubber yang bisa menangkap bau, kami bakal memasang alat baru yakni H2SO4 recovery pada tahun ini,” kata dia.