Obat Ini Penting bagi Warga Klaten saat Erupsi Merapi

Sarjino, warga Dukuh Bangan, Sidorejo, Klaten, membawa tas yang sudah diisi surat-surat penting dan keperluan khusus ketika harus mengungsi saat level Merapi naik ke siaga. Foto diambil Selasa (15/1/2019).(Solopos - Taufiq Sidik Prakoso)
17 Januari 2019 19:05 WIB Taufik Sidik Prakoso Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN – Aktivitas warga yang tinggal di kawasan rawan bencana (KRB) berjalan normal meski status Gunung Merapi dinaikkan levelnya dari normal menjadi waspada sejak 21 Mei 2018 silam.

Tak terlihat kekhawatiran warga dengan peningkatan status tersebut apalagi guguran lava kerap terpantau ketika puncak Merapi cerah. Mereka tetap beraktivitas sehari-hari seperti mencari pakan ternak, berkebun, atau menambang pasir.

Namun, di balik ketenangan warga lereng gunung tersebut, mereka sudah melakukan persiapan jika sewaktu-waktu Merapi naik level atau bergolak hingga mengharuskan mereka mengungsi. Salah satu persiapan yakni menyimpan surat-surat penting.

Seperti yang dilakukan Riyanto, 46, warga Dukuh Petung, Desa Sidorejo, Kecamatan Kemalang, Klaten. Ia sudah memasukkan berbagai surat penting seperti sertifikat tanah atau kartu keluarga dalam satu tas sejak status Merapi dinyatakan dalam level waspada. Tak hanya surat penting, ia menyiapkan tetes mata dalam tas yang sama.

Tetes mata diperlukan untuk mengantisipasi jika mata kemasukan debu saat ada hujan abu. Selain itu, pakaian wanita juga sudah masuk ke dalam tas,” kata Riyanto saat berbincang dengan Solopos.com, Selasa (15/1/2019).

Tak hanya Riyanto yang melakukan persiapan tersebut. Warga lainnya terutama yang tinggal di wilayah KRB erupsi Merapi melakukan persiapan yang sama. “Setiap pertemuan berulang kali sudah disampaikan agar warga menyimpan surat-surat penting itu dalam satu tas. Ada yang menyimpan dalam satu tas ada juga yang sudah menitipkan surat penting ke saudaranya di daerah lebih aman,” kata dia.

Hal yang sama juga dilakukan Sarjino, 40, warga Dukuh Bangan, Desa Sidorejo. Berbagai surat penting seperti buku nikah, akta kelahiran, BPKB, ijazah, serta kartu keluarga sudah ia simpan dalam satu tas bantuan yang ia terima pascaerupsi Merapi 2010 lalu. Tak hanya tas, ia menyimpan surat penting lainnya dalam wadah berbahan bambu.

Sertifikat tanah sudah dimasukkan dalam wadah bambu. Wadah ini peninggalan orang tua dan aman dibawa saat hujan atau antisipasi dimakan pengerat,” kata dia.

Persiapan itu dilakukan agar surat-surat penting cepat dibawa dan warga tak kebingungan mencari ketika harus cepat-cepat mengungsi. Selain itu, surat-surat itu disiapkan warga untuk antisipasi ketika ada pendataan di tempat pengungsian. “Ini juga untuk kepentingan warga sendiri, salah satu bentuk kesiapsiagaan,” ungkapnya.

Selain menyiapkan surat penting dalam satu tas, kesiapan lain dilakukan dengan menyiapkan skenario ketika harus mengungsi. Ternak masuk kategori pertama untuk diungsikan bersama warga. Lokasi pengungsian ternak sudah disiapkan di desa-desa yang selama ini menjadi tempat bagi warga Sidorejo untuk mengungsi.

Lokasinya sudah kami siapkan di desa yang dulu menjadi tempat kami untuk mengungsi salah satunya Desa Manjung, Kecamatan Ngawen. Selama ini kami terus berkomunikasi dengan warga di desa tersebut. Armada untuk mengungsikan ternak juga sudah disiapkan,” urai Sarjino.

Alasan ternak sapi masuk kategori prioritas untuk diungsikan lantaran hewan tersebut dianggap menjadi harta warga. Hampir setiap keluarga di desa lereng Merapi memelihara sapi. Ada kecenderungan jika ternak tak diungsikan ketika level siaga, warga tetap kembali ke rumah mereka sekadar memberikan pakan meski harus memasuki wilayah bahaya diterjang awan panas atau wedus gembel ketika erupsi.

Kami berkaca pengalaman erupsi 2010 lalu di tempat Mbah Maridjan [Kinahrejo, Cangkringan, Sleman] ada warga yang diterjang awan panas karena memberi makan ternak. Karenanya ternak kami dahulukan agar warga tidak kembali ke rumah dulu saat mengungsi,” kata dia.

Kepala Desa Sidorejo, Jemakir, mengatakan jumlah total warga di desa tersebut sebanyak 4.200-an jiwa. Sementara, sekitar 1.130 jiwa tinggal di wilayah KRB 3 di antaranya meliputi wilayah Dukuh Deles, Bangan, Butuh, dan Karang. “Selama ini warga meningkatkan kewaspadaan dan melakukan kesiapsiagaan termasuk intensif berkomunikasi dengan BPPTKG agar mendapatkan informasi perkembangan Merapi,” kata dia.