18 Warga Wonogiri Terjangkit DBD, Salah Satunya Narapidana Rutan

Petugas juru pemantau jentik (jumantik) mengecek perkembangan jentik di bak mandi warga Wonogiri, belum lama ini. (Istimewa - Dinkes Wonogiri)
17 Januari 2019 16:15 WIB Rudi Hartono Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI -- Sebanyak 18 warga Wonogiri terjangkit demam berdarah pada dua pekan pertama Januari 2019. Lima orang di antaranya sudah mencapai fase demam berdarah dengue (DBD).

Satu penderita DBD merupakan narapidana Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Wonogiri dan kini menjalani perawatan di layanan kesehatan internal rutan.

Informasi yang dihimpun Solopos.com dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Wonogiri, Kamis (17/1/2019), belasan penderita demam berdarah itu terdiri atas 12 penderita demam dengue (DD), lima penderita DBD, dan satu penderita sudah mencapai tahap dengue shock syndrome (DSS).

DD merupakan fase saat penderita sudah terkena virus dengue. DBD terjadi saat penderita DD yang sudah mengalami plasma darah pecah. Sedangkan DSS adlaah fase paling parah saat penderita mengalami komplikasi DBD.

Fase DSS dapat berakibat kematian jika penderita terlambat ditangani. Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Wonogiri, Supriyo Heryanto, saat ditemui Solopos.com di kantornya di kawasan kota, Kamis, mengatakan temuan kasus di dalam Rutan menunjukkan di dalam atau luar Rutan terdapat sarang nyamuk Aedes aegypti.

Seperti diketahui, nyamuk pembawa virus dengue itu memiliki daya jelajah mencapai radius 100 meter dari sarang. Petugas Dinkes saat ini masih memantau perkembangan jentik-jentik nyamuk di area dalam maupun luar Rutan.

Jika sudah mendapatkan hasil pantauan, Dinkes akan melakukan fogging atau pengasapan untuk membunuh nyamuk dewasa.

“Semoga tahun ini tidak ada penderita yang sampai meninggal dunia. Pada musim penghujan seperti ini warga harus lebih waspada. Kalau ada keluarga yang badannya panas, jangan anggap hanya masuk angin. Segera periksakan ke dokter atau puskesmas. Jika demam berdarah dapat terdeteksi sejak awal, potensi bisa sembuh masih besar," kata lelaki yang akrab disapa Priyo itu.

Berdasar kasus sebelumnya, penderita meninggal dunia kebanyakan karena telat dibawa ke layanan kesehatan. Penderita sudah mencapai tahap DSS baru diperiksakan.

Bercermin pada kasus sebelumnya, pada 2018 terdapat 147 penderita yang meliputi 123 orang penderita DD dan 24 orang penderita DBD. Tiga orang penderita di antaranya meninggal dunia.

Pada 2017, angka kasus DBD jauh lebih rendah karena saat itu kemarau terjadi sepanjang tahun. Kala itu tercatat ada lima penderita yang mencapai DBD dan tidak ada yang meninggal dunia.

Sementara pada 2016 terdapat 215 penderita dan lima di antaranya meninggal dunia. Penderita itu meliputi 89 penderita DD, 55 penderita DBD, dan 71 penderita mencapai fase DSS. “Mayoritas penderita adalah anak dan remaja,” imbuh Priyo.

Dia mengimbau warga menggencarkan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) untuk memutus siklus kehidupan nyamuk Aedes aegypti yang dimungkinkan sudah bertelur sejak pengujung kemarau sebelumnya. Telur nyamuk Aedes aegypti bisa hidup hingga empat bulan meski sebelumnya tidak terkena air.

Menurut dia, PSN merupakan langkah paling efektif, yakni dengan melakukan 3M plus. Langkah itu meliputi menguras tempat penampungan air, menutup rapat tempat penampungan air, memanfaatkan barang bekas yang berpotensi dijadikan tempat perkembangbiakan nyamuk penular DBD, dan sebagainya.

Pembersihan tempat penampungan air seperti bak mandi, sangat penting. Bak mandi yang jarang digunakan pun sebaiknya tetap dibersihkan secara menyeluruh untuk mematikan telur aedes aegypti.

Dinding bak mandi yang seperti itu dimungkinkan dijadikan tempat bertelur nyamuk berwarna belang itu sejak kemarau. Langkah lain yang perlu diperhatikan adalah melindungi diri dari gigitan nyamuk, terutama saat nyamuk Aedes aegypti beraktivitas.

Biasanya nyamuk tersebut beraktivitas pagi pukul 06.00 WIB-10.00 WIB dan sore pukul 15.00 WIB-18.00 WIB. Terpisah, Kepala Satuan Pengamanan Rutan Wonogiri, Agus Susanto, menginformasikan warga binaan yang menderita DBD dirawat di klinik Rutan.

Narapidana tersebut sakit sejak Rabu (16/1/2019). Menurut Agus kasus itu merupakan kasus pertama sejak Rutan berdiri. Dia sudah meminta seluruh penghuni menjaga kebersihan bak mandi di blok masing-masing. Selain itu mereka akan diajak kerja bakti membersihkan lingkungan dalam Rutan.