3 Hari, 7 Pengedar Narkoba Dibekuk di Klaten 

Kapolres Klaten, AKBP Aries Andhi (tiga dari kanan), memperlihatkan barang bukti kasus narkoba di Mapolres setempat, Kamis (17/1/2019). (Solopos - Ponco Suseno)
18 Januari 2019 08:20 WIB Ponco Suseno Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN -- Kasus narkoba menjadi kasus paling menonjol di Klaten pada awal 2019 ini. Dalam kurun waktu tiga hari di awal Janauri, Satnarkoba Polres Klaten menggulung tujuh pengedar narkoba

Berdasarkan data yang dihimpun Solopos.com, para pengedar ditangkap di lokasi berbeda di Kabupaten Bersinar. Diawali pada Senin (7/1/2019), polisi menangkap Augest Jana Rupaka alias Ages, 25, warga Wedi, di kawasan Ceper. Saat ditangkap Ages hendak mengedarkan pil jenis psikotropika. 

Selanjutnya, polisi menangkap tiga tersangka, Selasa (8/1/2019). Mereka adalah Giovani Marhendra Stiadi, 19, warga Wedi; Ariston Ramadhan alias Khontul, 25, warga Klaten Selatan; Kristian Bima Nugroho alias Bimo, 22, warga Klaten Tengah. 

Giovani dan Ariston ditangkap di Klaten Tengah. Sedangkan Bimo ditangkap di Klaten Selatan. Di antara barang bukti yang disita polisi, yakni pil jenis psikotropika.

Polisi juga menangkap tiga orang lagi pada Rabu (9/1/2019). Mereka yakni Atula Dian Febriyanto alias Tula, 26, warga Pedan; Joko Siswanto alias Kodok, 29, warga Pedan; Joko Sutrisno alias Joko Tato, 37, warga Delanggu. Barang bukti yang disita polisi berupa sabu-sabu.

“Kasus narkoba ini sangat menyedihkan. Belum genap satu bulan [di awal 2019], sudah ada tujuh tersangka yang ditangkap. Operasi  pemberantasan narkoba akan terus diaktifkan agar generasi muda di Klaten tak terpengaruh narkoba,” kata Kapolres Klaten, AKBP Aries Andhi, saat jumpa pers di Mapolres Klaten, Kamis (17/1/2019). 

AKBP Aries Andhi mengatakan sebagian besar pengedar yang ditangkap itu merupakan wajah baru di Kabupaten Bersinar. Selain mengedarkan barang haram, ketujuh tersangka itu juga pemakai. 

Para tersangka pembawa pil psikotropika dijerat UU No. 5/1997 tentang Psikotropika dengan ancaman pidana paling lama lima tahun dan denda Rp100 juta. Sedangkan tersangka kasus narkotika dijerat UU No. 35/2009 tentang Narkotika dengan ancaman hukuman empat tahun hingga 20 tahun. 

“Barang bukti yang disita dari tujuh tersangka itu, 14 butir pil merek Calmflet, empat butir pil Alprazolam, dan 0,62 gram sabu-sabu. Rata-rata para tersangka bekerja sebagai buruh harian lepas,” katanya. 

Kasatnarkoba Polres Klaten, AKP Munawar, mewakili Kapolres Klaten, AKBP Aries Andhi, mengatakan para tersangka biasanya menggunakan sistem jaringan terputus saat bertransaksi dengan pengguna lainnya atau pun saat mencari barang haram dari seorang bandar.

“Pemesan biasanya berkomunikasi via ponsel [dengan pengedar]. Setelah pemesan mentransfer uang, biasanya barang akan diletakkan di suatu tempat [diambil pemesan setelah berkomunikasi dengan pengedar melalui ponsel]. Peredaran narkoba yang dilakukan tujuh tersangka ini baru menyasar ke teman-teman dekatnya. Artinya belum sampai mengarah ke lingkungan pendidikan,” katanya. 

Salah satu tersangka, Ages, mengaku sudah beberapa bulan mengonsumsi pil jenis psikotropika. “Awalnya membeli psikotropika sesuai resep dokter [selanjutnya, pil yang dibeli itu diedarkan ke teman-teman dekatnya],” katanya tanpa menyebutkan harga per pil.