Seratusan BUM Desa Tumbuh di Karanganyar, Apa Saja Usaha Mereka?

Kabid Pemberdayaan Usaha Ekonomi Masyarakat dan Teknologi Tepat Guna, Sri Suprapti, menunjukkan hasil produksi BUM Desa Bersama di ruang kerjanya, Jumat (18/1/2019). - Sri Sumi Handayani
18 Januari 2019 18:32 WIB Sri Sumi Handayani Karanganyar Share :

Solopos.com, KARANGANYAR -- Kabupaten Karanganyar memiliki seratusan BUM desa hingga awal 2019. Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Dispermades) Karanganyar membagi data Badan Usaha Milik Desa (BUM Desa) hingga November 2018 yakni 73 BUM Desa.

Jumlah itu belum termasuk BUM desa baru mendaftar setelah November hingga awal Januari. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karanganyar mewajibkan setiap desa membuat BUM desa. Dari total 162 desa di Karanganyar Dispermades mengklaim sudah ada seraturan BUM desa.

Rata-rata BUM desa mengelola unit usaha simpan pinjam, pengelolaan air bersih, pasar desa, dan lain-lain. Penentuan unit usaha menyesuaikan potensi desa masing-masing. Karanganyar wilayah timur seperti Tawangmangu, Karangpandan, Ngargoyoso menambahkan unit usaha wisata. Wilayah barat dan utara seperti Colomadu, Mojogedang, Kerjo, Jenawi menambahkan pertanian, pengelolaan sampah dan lain-lain.

Kepala Bidang (Kabid) Pemberdayaan Usaha Ekonomi Masyarakat dan Teknologi Tepat Guna, Sri Suprapti, menjelaskan BUM desa dibagi menjadi dasar, rintisan, dan berkembang. Rata-rata BUM desa di Karanganyar pada tahap rintisian. Tetapi ada juga BUM desa yang termasuk berkembang seperti di Desa Berjo. Suprapti menjelaskan keberhasilan BUM desa tergantung dari dukungan pihak desa terutama kepala desa.

BUM Desa Berjo mengelola unit usaha wisata, simpan pinjam, warung, dan persewaan. BUM desa memberikan kredit lunak kepada masyarakat yang memiliki usaha bidang pertanian. Berkembang ke pengelolaan wisata alam Air Tejun Jumog. Muncul usaha baru, yakni jasa ojek, parkir, dan penjual sayur di sekitar objek wisata.

"Lewat suntikan modal dari dana desa. Kalau kades kendel menggelontorkan modal ya jalan. Kemendes PDTT sudah mengatur penggunaan dana desa, salah satunya pemberdayaan masyarakat. BUM desa bagian dari pemberdayaan masyarakat. Bikin BUM desa tidak diwajibkan tetapi upaya menambah pendapatan desa," kata dia saat berbincang dengan Suprapti di ruang kerjanya, Jumat (18/1/2019).

Dia mengakui belum semua desa membentuk. Salah satu penyebab adalah belum semua desa betul-betul paham dan menyadari BUM desa penting. Oleh karena itu, Dispermades merangsang dengan sosialisasi, bimbingan teknik, dan lain-lain. Perempuan berkerudung itu menyebut respons pihak desa positif terlihat dari peningkatan jumlah BUM desa.

"Persoalannya belum semua desa yang sudah bikin ini melapor ke kami. Padahal itu penting untuk pendataan dan penyaluran bantuan dari kabupaten, provinsi, maupun pusat. Selain itu penyertaan modal dari desa belum semua lancar. Tidak diberi batas minimal suntikan dana," jelas dia.

Sementara itu, Kepala Dispermades Karanganyar, Utomo Sidi Hidayat, menyampaikan setiap desa harus membentuk BUM desa sesuai potensi desa masing-masing. "Sesuai aturan. Kami harapkan semua desa sudah. Jadi untuk meningkatkan ekonomi masyarakat dan desa. Itu sesuai potensi desa masing-masing. Kegiatan, programnya macam-macam," tutur dia saat dihubungi Solopos.com, Jumat.