Bos Regar Sport Malah Tolak SDM Matang

Anak/anak muda menjadi andalan SDM di Regar Sport Indonesia (Solopos/Cahyadi Kurniawan)
18 Januari 2019 21:40 WIB Cahyadi Kurniawan Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI -- Banyak perusahaan yang memilih mencari sumber daya manusia (SDM) yang sudah terlatih dan memiliki skill untuk mereka rekrut. Istilahnya mencari SDM yang sudah “jadi”.  Dengan SDM yang sudah matang, perusahaan tak perlu lagi bersusah-payah melakukan training atau pelatihan yang itu bisa berarti penambahan biaya.

Namun rumus itu tidak berlaku bagi Jumariyanto, 37. Dilandasi kecintaannya pada anak-anak muda Wonogiri dan ingin memberi arti lebih dengan memberdayakan potensi lokal Kota Gaplek membuat Jumariyanto tak pernah mau menerima lulusan “matang” untuk bekerja di bisnis jersey miliknya, Regar Sport Indonesia. Jumariyanto lebih suka menerima lulusan SMP dan SMK/SMK dan harus asli Wonogiri.

Jumariyanto tak butuh lulusan ijazah tinggi sebab Regar Sport Manajemen sendiri yang sudah menyiapkan pola pelatihan dan mencetak spesialisasi SDM-nya. Jumariyanto bikin sendiri kurikulum untuk SDM yang dia rekrut, mulai dari bidang pemasaran, desain, produksi hingga teknologi informasi (IT) lengkap dengan semua jenis jenjangnya. Setiap jenjang memiliki derajat keahlian tertentu sesuai kemampuan karyawan.

“Hanya satu syarat bergabung Regar Sport, kesediaan untuk belajar terus-menerus. Jika sanggup, ‘Yuk, kita belajar bareng’,” ucap Jumariyanto menyampaikan apa yang dia katakan kepada anak-anak muda Wonogiri itu. 

Belum Punya Skill

Jumariyanto

Foto: Jumariyanto (Istimewa)

Bukan tanpa alasan Jumariyanto lebih memilih SDM anak muda yang belum punya pengalaman dan skill terlatih.

“Kenapa anak muda? Kami percaya, yang terbaik adalah membangun dari bawah, naik secara bertahap seperti saya. Di sini, mereka bekerja tapi kenyataannya mereka sebenarnya menjalani coaching atau pelatihan. Mereka Belajar setiap hari,” beber Jumariyanto, saat ditemui solopos.com, baru-baru ini.

Pembangunan spesialisasi anak muda dilakukan dalam kelas-kelas yang dibina seorang wali kelas. Mereka juga mendapatkan materi soal capacity building, diskusi, open class dan lainnya. Mereka akan berkumpul di satu bidang sejenis lalu berkembang menjadi komunitas.

“Nanti ada banyak komunitas seperti komunitas pemasaran, komunitas desain, komunitas produksi, hingga komunitas IT. Semoga ke depan, komunitas IT bisa menjadi silicon valley-nya Wonogiri,” ujar pria kelahiran 9 Juni 1981 ini.

Jumariyanto menuturkan dirinya terus memacu SDM-SDM muda Wonogiri karena sebenarnya mereka memiliki kemampuan yang tidak kalah dibandingkan dengan anak-anak yang menempuh jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Persoalannya, anak-anak muda ini seringkali kurang percaya diri terhadap kemampuan yang mereka miliki.

“Saya katakan kepada mereka. Berapa jumlah desain yang sudah mereka hasilkan. Kalau setiap hari mereka menghasilkan desain, dihitung-hitung, sudah banyak, bahkan desain mereka sudah sampai ke luar negeri. Orang dilihat dari hasil karyanya dan anak-anak ini sudah menghasilkan karya yang secara kuantitas dan kualitas diakui secara luas. Jadi tidak ada alasan untuk tidak percaya diri,” ujarnya.