Tragis! Kakak Beradik Sragen Kehilangan Ayah-Ibu Dalam Rentang 25 Hari

Rombongan Sahabat Sragen Sehati (SSS) mengunjungi kakak adik yatim piatu asal Dusun Jatirejo RT 028/RW 010, Desa Jirapan, Kecamatan Masaran, Sragen, Minggu (20/1/2019). (Istimewa - Bambang Sugianto)
20 Januari 2019 20:15 WIB Moh Khodiq Duhri Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN -- Nasib tragis dialami kakak adik Astri Aries Tania, 13, dan Alfaro, 2,5 bulan, asal Dusun Jatirejo RT 028/RW 010, Desa Jirapan, Kecamatan Masaran, Sragen.

Kedua kakak beradik itu kehilangan kedua orang tuanya dalam waktu berdekatan. Ayah mereka, Trimanto, meninggal dunia akibat penyakit paru-paru pada awal Desember lalu. Selang 25 hari kemudian, giliran sang ibu, Haryanti, yang mengembuskan napas terakhirnya.

Warga sekitar menyebut penyebab meninggalnya Haryanti karena serangan penyakit angin duduk. Saat ini, Astri dan Alfaro diasuh kakek-nenek mereka, Wagimin, 60, dan Ngadinah, 55.

“Kakek dan nenek dua bocah malang itu petani. Mereka hidup serba pas-pasan. Tentu mereka kesulitan untuk sekadar membeli susu,” ucap Bambang Sugianto, anggota Sahabat Sragen Sehati (SSS) saat mengunjungi rumah Wagimin, Minggu (20/1/2019).

Bambang menjelaskan Astri yang masih kelas VI SD mengalami gangguan pendengaran. Astri masih membutuhkan alat bantu dengar untuk memudahkan dia menyerap ilmu yang disampaikan guru di kelas.

Namun, dengan penghasilan di bawah rata-rata, Wagimin kesulitan membeli alat bantu dengar untuk cucunya itu. Selain dari SSS, nasib Astri dan Alfaro juga mengundang keprihatinan Dadi Peduli Sragen serta sejumlah organisasi asal Solo dan Karanganyar.

“Sebetulnya ada cukup banyak warga yang menawarkan diri untuk mengadopsi dua anak itu. Tapi, kakek dan nenek mereka tidak mau. Kakek-neneknya tidak mau kehilangan mereka,” ujar Bambang yang juga Korlap Search and Rescue SAR) Pengamanan Ormas Lingkungan Desa (Poldes) Sepat ini.

Bambang berharap adanya uluran tangan dari para dermawan untuk membantu meringankan beban Wagimin dalam merawat dan membesarkan kedua cucunya yang sudah yatim piatu itu.

“Kami sudah berusaha menyosialisasikan informasi mengenai keberadaan dua anak yatim piatu yang dirawat kakek dan neneknya ini melalui media sosial. Mudah-mudahan ada dermawan yang bersedia membantu. Terus terang, kami iba dengan nasib yang dialami dua bocah itu. Mereka masih anak-anak, tapi sudah kehilangan kedua orang tua,” papar Bambang.