Kasus DBD Mondokan Cetak Rekor Tertinggi di Sragen

Petugas Puskesmas Mondokan mengasapi lingkungan sekitar rumah warga RT 001, Dukuh Guli, Desa Gemantar, Mondokan, Sragen, Sabtu (19/1/2019). (Solopos - Tri Rahayu)
20 Januari 2019 21:15 WIB Tri Rahayu Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN -- Puskemas Mondokan Sragen mengintensifkan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dan pengasapan atau fogging. Hal itu mengingat angka kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kecamatan Mondokan mencapai rekor tertinggi di Sragen, yakni 40 kasus per Sabtu (19/1/2019).

Selain itu, house index dari hasil penyelidikan epidemiologi di seluruh desa di Mondokan mencapai 20%.

Tim Puskesmas Mondokan yang dipimpin drg. Budi Wibowo melakukan pengasapan atau fogging di lingkungan RT 001, Dukuh Guli, Desa Gemantar, Mondokan, Sragen, Sabtu pagi.

Fogging di desa yang terletak di perbatasan Sragen-Grobogan itu merupakan kali keempat sejak kasus DBD muncul di Mondokan, Desember 2018 lalu. Fogging kali pertama dilakukan di RT 018 Tempelrejo, lalu RT 09 Kedawung, dan RT 004A, Dukuh Kendal, Desa Sumberejo.

Ada dua petugas yang mengasapi lingkungan sekitar rumah dan di dalam rumah di Guli. Ada 50 rumah yang menjadi sasaran fogging pada Sabtu itu.

Saat fogging dilakukan, Budi bersama petugas Pengendailan dan Pencegahan Penyakit (P2P) menemukan ada jentik-jentik dan nyamuk Aedes aedypti yang sedang bertelur di lubang kayu trembesi yang sudah dipotong.

Lubang itu hanya berdiameter 10 cm tetapi jumlah jentik-jentik nyamuknya lebih dari 30 ekor dan ada nyamuk yang bertelur. Meskipun dikerumuni banyak orang dan kamera, nyamuk itu tak mau terbang.

Hal itu ditunjukkan kepada warga setempat supaya menjadi contoh adanya jentik nyamuk pembawa penyakit DBD.

“Sebelum Dinas Kesehatan Kabupaten [DKK] Sragen menetapkan kejadian luar biasa [KLB], kami sudah membentuk posko DBD di Mondokan pada Desember. Posko DBD itu kemudian didirikan di sembilan desa lainnya. Bahkan kami juga sudah PSN serentak. Kendati demikian angka kasus DBD di Mondokan masih yang tertinggi. Kemarin 36 kasus, per hari ini tambah empat kasus menjadi 40 kasus,” kata Budi.

Budi berharap dengan kasus DBD bisa ditekan dan jumlahnya bisa menurun. Dari sembilan desa di Mondokan, Budi menyebut hanya Desa Trombol yang nol kasus DBD padahal HI-nya juga sampai 20%.

Memang angka kasus di Gemantar ini yang terbanyak dengan 12 kasus DBD. “Kenapa Guli jadi sasaran fogging? Karena ada beberapa kriteria, di antaranya HI di atas 5% dan kondisi di Gemantar itu 27%. Kemudian ditemukan kasus DBD minimal tiga kasus DBD,” tuturnya.

Kepala Desa Gemantar, Suradi, mengakui Gemantar memang daerah rawan penyakit DBD. Dia menyampaikan pemerintah desa sudah membentuk posko siaga DBD.

“Kasus DBD banyak muncul di wilayah Sragen utara yang notabene sulit air. Ternyata sedikit air itu justru jadi pemicu berkembangnya nyamuk DBD.