Suporter Bola Asal Klaten Meninggal Dilempar Batu, Begini Kronologi Menurut Adik Korban

Muhammad Thoyibin menunjukkan foto putra keduanya, Muhammad Asadulloh Alkhoiri, 19, yang meninggal dunia seusai dilempar batu oleh rombongan tak dikenal, Minggu (20/1/2019). (Solopos - Taufiq Sidik Prakoso)
20 Januari 2019 19:15 WIB Taufik Sidik Prakoso Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN -- Kematian suporter sepak bola asal Klaten, Muhammad Asadulloh Alkhoiri, 19, yang dilempari batu oleh rombongan tak dikenal seusai menonton menonton laga persahabatan PSS Sleman-Persis Solo di Stadion Maguwoharjo, Sleman, DIY, Sabtu (19/1/2019), meninggalkan duka mendalam bagi keluarganya.

Sang adik, Muhammad Aflah Almanshurin, 15, yang menjadi saksi dan berada di lokasi kejadian saat kakaknya kena lemparan batu menuturkan kronologi peristiwa itu.

Ditemui wartawan di rumahnya, Dukuh Sribit, Desa Pandeyan, Kecamatan Jatinom, Klaten, Minggu (20/1/2019), Aflah bercerita ia dan kakaknya berangkat ke Sleman naik sepeda motor berboncengan sekitar pukul 12.30 WIB, Sabtu.

Seusai menonton laga tersebut, mereka pulang ke Klaten dengan posisi Asad mengemudikan sepeda motor. Dalam perjalanan pulang, mereka berada di belakang rombongan suporter Persis Solo, Pasoepati, yang juga perjalanan pulang ke arah Solo.

Di ruas jalan raya Jogja-Solo, Kecamatan Kalasan, Sleman, DIY, Asad dan Aflah melihat rombongan suporter di depan mereka menepi di sisi kiri jalan sekitar pukul 19.30 WIB. Asad lantas menyalip rombongan Pasoepati dari sisi kanan.

Asad bersama Aflah tak menyadari dari ruas jalan sebaliknya atau dari Solo menuju Jogja terdapat puluhan orang berombongan mengendarai sepeda motor melintas.

Sebuah batu beton berukuran besar dilempar dari rombongan tak dikenal tersebut hingga mengenai dada Asad. “Kakak saya sempat membelokkan sepeda motor ke kiri [tepi jalan]. Pada bagian bibirnya berdarah. Kondisinya masih sadarkan diri,” kata Aflah.

Melihat peristiwa tersebut, rombongan suporter Pasoepati lantas mendatangi Asad dan Aflah. Mereka memboncengkan Asad menuju Rumah Sakit Islam (RSI) Yogyakarta yang berjarak sekitar 100 meter dari lokasi kejadian guna mendapatkan perawatan.

Asad kemudian dirujuk ke RSUP dr. Sardjito, DIY. Namun, ia dinyatakan meninggal dunia sekitar pukul 23.00 WIB setelah mengalami perdarahan di ulu hati.

Aflah tak mengetahui ciri-ciri rombongan bersepeda motor yang melemparkan batu ke arah kakaknya tersebut. Ia hanya mengetahui mereka mengendarai sepeda motor secara bergerombol dan diperkirakan berjumlah 50 orang.

Batu dilempar saat rombongan itu berkendara sepeda motor di ruas jalan raya Solo-Jogja. Mereka terus melaju ke arah Jogja seusai melempar batu.

Aflah menjelaskan saat perjalanan berangkat dan pulang, ia bersama kakaknya tak mengenakan atribut suporter. Asad biasa menyimpan syal PSS Sleman di dalam jok sepeda motor dan hanya mengenakannya saat tim kesayangannya bertanding.

“Saat kejadian itu juga tidak ada atribut yang dikenakan karena sudah disimpan di dalam jok,” kata Aflah yang baru kali kedua diajak kakaknya melihat pertandingan PSS Sleman tersebut.

Asad dimakamkan pada Minggu sekitar pukul 14.00 WIB di Dukuh Sribit, Desa Pandeyan. Perwakilan suporter Persis Solo dan PSS Sleman berdatangan ke rumah duka untuk menyampaikan belasungkawa.

Ayah Asad, Muhammad Thoyibin, menjelaskan keluarganya adalah pencinta bola tak terkecuali Asad. Mahasiswa Undip jurusan Administrasi Perkantoran semester III tersebut kerap melihat pertandingan PSS Sleman saat tim tersebut melakoni laga kandang di Stadion Maguwoharjo.

Asad menjadi suporter PSS Sleman sejak SMA. Thoyibin menjelaskan peristiwa yang menimpa anaknya sudah ditangani aparat Polres Sleman.

Barang bukti berupa batu yang diduga dilempar dan mengenai dada Asad sudah disita polisi. Thoyibin berharap pelaku pelempar batu hingga menyebabkan putra keduanya meninggal dunia itu segera tertangkap.