Ada Petunjuk, Pencarian Pendaki Magelang Difokuskan di Pos 4 Gunung Lawu

Anggota Tim SAR Karanganyar, AGL, dan sukarelawan lain menyusuri hutan, dan tebing Gunung Lawu untuk mencari Alvi Kurniawan. (Istimewa - Tim SAR Karanganyar)
20 Januari 2019 18:40 WIB Sri Sumi Handayani Karanganyar Share :

Solopos.com, KARANGANYAR -- Sejumlah sukarelawan berkukuh melanjutkan pencarian pendaki asal Desa Mejing, Kecamatan Candimulyo, Kabupaten Magelang, Alvi Kurniawan, 20, yang hilang di Gunung Lawu sejak 1 Januari 2019 lalu.

Sesuai standard operating procedure (SOP) pencarian orang hilang dihentikan setelah tujuh hari. Namun para sukarelawan sepakat melanjutkan pencarian demi kemanusiaan.

Hingga Minggu (20/1/2019), mereka terus menyusuri berbagai tempat yang mungkin didatangi Alvi. Beberapa hari sebelumnya tim pencari memperoleh petunjuk. Ada informasi aroma kurang sedap tercium di sekitar pos 4 jalur pendakian Cemoro Kandang.

Sejumlah pendaki lain pun mengamini hal tersebut. Mendapat informasi itu, bantuan tenaga sukarelawan dari luar Karanganyar dikirim ke pos 4. Mereka memastikan informasi itu betul. Anggota Tim SAR Karanganyar, Muhammad Rasyid Al Fauzan, memperbarui informasi pemantauan Alvi.

Tim yang meliputi MDMC, SAR Wonosoro, SAR Jateng, dan lain-lain sudah berkemah di pos 4 sejak beberapa hari lalu. Polres Karanganyar turut mengirimkan bantuan seekor anjing pelacak jenis Jack Milenis dan tujuh orang anggota Satuan Sabhara Polres Karanganyar. Mereka diperbantukan mencari sumber bau di sekitar pos 4.

Pada Jumat (18/1/2019), mereka menyiapkan vertical rescue, tetapi tidak dilakukan karena cuaca tidak mendukung. Hujan, badai, kabut di Gunung Lawu sering kali susah diprediksi.

"Paling berat itu saat menyampaikan kepada keluarga hasilnya nihil. Itu beban. Bukan soal kondisi kami drop menghabiskan infus beberapa kantong. Tapi perasaan keluarga Alvi, mereka masih bersemangat mencari dan menemukan Alvi dalam kondisi apa pun," ungkap Fauzan.

Akibat cuaca buruk yang berlangsung sejak Jumat itu, pemantauan dihentikan pada Minggu. "Tim yang di atas ditarik turun semua. Kami menunggu teman-teman dari atas. Setelah itu kami evaluasi. Pemantauan dihentikan sementara sembari menunggu perkembangan. Kami menunggu suasana tenang dan teman-teman lebih segar. Besok, keluarga ditemani rekan-rekan sukarelawan naik. Mereka ingin mendoakan Alvi di sekitar pos 4," ujar Fauzan.

Kasat Sabhara Polres Karanganyar, AKP Suryono, mewakili Kapolres Karanganyar, AKBP Catur Gatot Efendi, menyampaikan timnya terhenti di pos 2. "Kami membantu dengan menerjunkan anggota. Rencana pencarian mengikuti pergerakan anjing pelacak mencari sumber bau. Tetapi belum sampai pos 4, tim harus turun. Cuaca buruk, hujan, badai, dan kabut. Tim kami sempat bertahan di pos 2 kemudian turun. Belum bisa naik karena enggak memungkinkan. Kami menunggu cuaca lebih baik," tutur Suryono saat dihubungi Solopos.com, Minggu (20/1/2019).

Seperti diinformasikan, Alvi terpisah dari rombongannya sebanyak tujuh orang yang naik Gunung Lawu melalui jalur Candi Ceto bersama Alvi pada Senin (31/12/2018). Rekan-rekannya turun pada Selasa (1/1/2019) namun Alvi menghilang.

Rekan-rekan Alvi melapor ke pos pendakian, Selasa. Laporan ditindaklanjuti dan dibentuk tim gabungan Basarnas Pos SAR Solo, Tim SAR Karanganyar, AGL, Reco, Rencan, MDMC, BPBD Karanganyar, SAR MTA, PMI Cabang Karanganyar, sukarelawan lain, TNI/Polri, dan warga.

Awalnya, mereka menyisir lokasi kali terakhir rombongan pendaki Magelang bertemu Alvi, yakni Pasar Dieng ke puncak dan sekitarnya. Koordinator Lapangan dari Basarnas Pos SAR Solo, Amar Suudi, mengatakan sesuai SOP, pencarian Alvi secara resmi dihentikan setelah tujuh hari atau Selasa (8/1/2019).

Namun, sejumlah sukarelawan bertekad melanjutkan pencarian dengan pemantauan melebihi batas waktu itu. Saat mendaki, Alvi diketahui mengenakan baju abu-abu bermotif titik putih berkerah biru dongker atau navy, membawa tas selempang, sandal jepit warna biru.

Ciri-ciri itu diunggah di media sosial plus foto Alvi kali terakhir berlatar belakang sabana di Gunung Lawu. Sukarelawan di Bumi Intanpari sepakat melanjutkan dengan alasan kemanusiaan.