Asale Desa Keloran Wonogiri, Tempat Raden Mas Said Cari Daun Kelor

Perangkat Desa Keloran, Selogiri, Wonogiri, berkumpul di depan kantor desa setempat, Jumat (18/1/2019). (Solopos - Rudi Hartono)
20 Januari 2019 21:40 WIB Rudi Hartono Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI -- Pernah mendengar peribahasa dunia tak selebar daun kelor? Daun kelor yang kecil digunakan untuk menganalogikan sesuatu yang sempit.

Jika diartikan secara bebas ungkapan itu berarti dunia tidak sempit. Peribahasa itu dilontarkan untuk memotivasi orang agar tidak putus asa dalam menghadapi kegagalan karena masih banyak pilihan.

Tak hanya sebagai ungkapan, kelor juga banyak manfaatnya untuk kehidupan. Daun kelor diyakini memiliki banyak khasiat untuk menyembuhkan berbagai penyakit, seperti menurunkan tekanan darah tinggi, diare, kencing manis, sakit kepala, dan sebagainya.

Bahkan, daun kelor juga bisa dibikin sayur. Dalam dunia klenik, daun kelor dipercaya dapat menangkal kekuatan magis atau ilmu hitam. Selain itu dapat membuang ajimat yang melekat di tubuh seseorang.

Begitu banyaknya manfaat kelor itu menginspirasi orang terdahulu di Wonogiri dalam memberi nama dusun. Seiring berjalannya waktu nama tersebut menjadi nama desa di Kecamatan Selogiri, yakni Keloran.

Desa Keloran diyakini dahulu merupakan sebuah belantara yang banyak ditemukan pohon kelor. Kepala Desa (Kades) Keloran, Sumaryanto, saat ditemui Solopos.com di kantornya, Jumat (18/1/2019), mengatakan penamaan Keloran tak terlepas dari keberadaan Raden Mas Said saat menghimpun kekuatan di telatah Nglaroh (cikal bakal pemerintahan Wonogiri) dalam melawan penjajah Belanda.

Raden Mas Said merupakan tokoh sentral dalam berdirinya pemerintahan Wonogiri 277 tahun silam. Keyakinan itu dikuatkan dengan keberadaan Sendang Sinangka yang juga berada di Keloran.

Sendang itu ditemukan Raden Mas Said. Nama sendang itu diambil dari buah nangka yang saat itu dinikmatinya di dekat sendang tersebut.

“Cerita yang berkembang di masyarakat, dahulu kalau membutuhkan daun kelor untuk dibuat obat, Raden Mas Said atau pengikutnya mencarinya di sini. Dahulu di sini merupakan kawasan yang banyak pohon kelornya. Karena itu wilayah ini dinamakan Keloran,” kata Sumaryanto.

Sampai sekarang banyak warga yang masih menanam pohon kelor. Warga termasuk Sumaryanto pun masih memanfaatkan daun kelor untuk mengobati berbagai penyakit, seperti asam urat dan menurunkan tekanan darah tinggi.

Dia sempat rutin meminum sari daun kelor untuk menurunkan kolesterol. Warga juga masih banyak yang memanfaatkannya sebagai bahan membuat sayur bening, semacam sup dengan kuah bening.

“Kami bersama tokoh masyarakat sepakat untuk menjadikan kelor sebagai ikon atau ciri khas desa. Ke depan semua warga kami dorong untuk menanam pohon kelor. Selain sebagai upaya pelestarian, ini juga untuk membangun branding desa,” imbuh Sumaryanto.