Bocah 4 Tahun Meninggal, Total DBD Sragen Renggut 3 Nyawa

Kepala Puskesmas Kedawung I Sragen, Agus Sukaca (kiri), menyampaikan penyuluhan pentingnya menjaga lingkungan warga Bendungan, Kedawung, Sragen, Senin (21/1/2019). (Istimewa - Hiladawati Azirah)
21 Januari 2019 16:40 WIB Tri Rahayu Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN -- Penyakit demam berdarah dengue (DBD) kembali merenggut nyawa di Kabupaten Sragen, Senin (21/1/2019).

Penyakit dengue hemorrhagic fever (DHF) tersebut mengakibatkan seorang bocah balita asal Dukuh Gandu, Bendungan, Kedawung, Sragen, Arsya Aulia Putri, 4, meninggal dunia setelah 24 jam dirawat di RSUD dr. Soehadi Prijonegoro Sragen. Dengan demikian total sudah tiga nyawa melayang akibat penyakit tersebut sepanjang Januari 2019 ini.

Sementara itu hingga Senin pukul 16.00 WIB, berdasarkan rekap data Bidang Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Sragen, jumlah kasus DBD sudah mencapai 389 kasus.

Peningkatan jumlah kasus DBD terjadi sejak Senin (14/1/2019) sebanyak 111 kasus, Selasa (15/1/2019) naik jadi 170 kasus, Rabu (16/1/2019) jadi 187 kasus, Kamis (17/1/2019) jadi 233 kasus, Jumat (18/1/2019) jadi 261 kasus, Sabtu (19/1/2019) jadi 317 kasus, dan Minggu (20/1/2019) naik lagi jadi 323 kasus. Pada Senin, ada tambahan 66 kasus sehingga totalnya 389 kasus dengan jumlah korban meninggal tiga orang.

Camat Kedawung, Hiladawati Aziroh, saat dihubungi Solopos.com, Senin sore, mengatakan sempat datang ke rumah duka bersama Kepala Puskesmas I Kedawung, Agus Sukaca, untuk menyampaikan ungkapan duka cita sekaligus memberi pemahaman kepada warga sekitar tentang bahaya DBD, Senin pagi.

Watik, sapaan akrab Camat Kedawung, juga langsung menggelar rapat koordinasi dengan Puskesmas Kedawung I dan Kedawung II bersama Polsek dan pihak terkait untuk mengantisipasi penyakit DBD tersebut.

“Hasil rapat menyepakati adanya gerakan PSN [pemberantasan sarang nyamuk] secara serentak di wilayah Kecamatan Kedawung pada Jumat [25/1/2019] mendatang. PSN serentak dilakukan di semua lingkungan RT dan semua desa, termasuk lingkungan sekolahan dengan melibatkan semua sektor,” katanya.

Watik menyampaikan PSN digerakkan untuk menggiatkan warga tentang pentingnya menjaga lingkungan dan berperilaku hidup sehat. Gerakan PSN itulah yang bisa mencegah munculnya penyakit, seperti DBD.

Direktur RSUD dr. Soehadi Prijonegoro Sragen, Didik Haryanto, menyampaikan jumlah pasien DBD yang dirawat di RSUD mencapai 161 orang dan satu orang meninggal dunia pada Senin, pukul 01.00 WIB di Bangsal Anggrek.

Didik menyampaikan jumlah pasien DBD yang meninggal dunia di RSUD Sragen menjadi tiga orang, masing-masing pada 1 Januari, 7 Januari, dan 21 Januari 2019.

“Kasus ketiga menimpa seorang bocah berumur 4 tahun asal Bendungan, Kedawung. Anak itu hanya menjalani perawatan intensif di RSUD selama 24 jam. Anaknya gemuk, trombositnya bagus, tapi muntahnya luar biasa sampai kehilangan cairan tubuh,” tuturnya.

Didik mengimbau kepada seluruh warga Sragen untuk waspada dan terus menjaga kebersihan lingkungan dan membiasakan hidup sehat. Dia mewanti-wanti jika ada anggota keluarga yang panas saat musim penghujan segera bawa ke pelayanan kesehatan terdekat.

“Yang sering kecolongan di masyarakat awam ketika sudah tidak panas dianggap sudah sembuh. Padahal ketika tidak panas pada hari ke-3 dan ke-4 disertai keringat dingin, badan lemas, itu justru mau menuju ke shock syndrom. Jadi harus dipastikan kepada tenaga kesehatan yang kompeten tentang kondisi orang yang tidak panas itu, apakah aman atau justru mau ke shock,” tuturnya.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Sragen, Hargiyanto, membenarkan adanya tambahan jumlah korban jiwa akibat DBD asal Kedawung tersebut. Hargiyanto menginformasikan ada tim dari Provinsi Jawa Tengah yang akan mengecek ke Sragen setelah rapat koordinasi (rakor) DBD di Sragen.

Kabid P2P DKK Sragen, Y. Agus Sudarmanto, memberikan data perkembangan kasus DBD per Senin sebanyak 389 kasus berdasarkan laporan dari 25 puskesmas. Jumlah kasus di Puskesmas Kedawung I per Senin ada 10 kasus DBD yang sebelumnya hanya tujuh kasus DBD.

“Semua data tersebut belum diverifikasi secara mendalam oleh tim yang memilah ini kasus DBD atau suspect. Pelaporan Minggu disebabkan rumah sakit dan puskesmas tidak aktif dan mungkin menumpuk di Senin,” ujarnya.