Roti Gaplek Inagiri Asal Wonogiri Tercipta Setelah 50 Kali Percobaan

Karyawan menunjukkan cookies roti gaplek Inagiri kemasan 100 gram di pabrik Inagiri, Dusun Sabuk, Desa Gunungsari, Jatisrono, Wonogiri, Senin (21/1 - 2019). (Solopos/Cahyadi Kurniawan)
22 Januari 2019 17:05 WIB Cahyadi Kurniawan Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI -- Saat Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, berkunjung ke Desa Kebonagung, Sidoharjo, Wonogiri, 6 Desember 2018 lalu, salah satu penjaga stan menawarinya sebuah roti. Roti itu berupa cookies berwarna cokelat dengan topping irisan kacang mete. Dengan kedua jarinya, ganjar memakan cookies itu lalu mengunyahnya.

“Bentuk gapleknya keren. Jadi, pernah saya di-bully, jangan pernah makan gaplek. Eh, sampeyan keliru. Gapleknya itu top! Sekarang rasakan gapleknya!” ujar Ganjar, seusai menelan kukis dari bahan gaplek bikinan pengusaha asal Jatisrono, Wonogiri, Yadi, 40.

Saat solopos.com mencicipi cookies yang sama, kue itu terasa manis, teksturnya lembut. Irisan mete menambah kesan gurih di mulut. Rasanya mirip brownies. Tak tercium aroma gaplek sedikitpun.

Yadi, pembikin roti gaplek, mengaku butuh setahun untuk menemukan resep yang pas untuk roti gapleknya. Impiannya sederhana, bagaimana cara menaikkan level roti gaplek dari roti bangket yang selama ini ia buat.

Roti bangket dijual murah untuk kalangan menengah ke bawah. Satu los isi empat kilogram (kg) dijual Rp60.000 dengan kemasan plastik biasa. Roti bangket dibikin dengan kombinasi 60 persen terigu dan 40 persen tapioka.

“Saya hanya ingin bikin roti dengan bahan 100 persen gaplek. Tapi bagaimana caranya? Lalu, saya mulai mencoba-coba pada April 2017,” kata Yadi, saat ditemui solopos.com di pabrik cookies Inagiri, Dusun Sabuk, Desa Gunungsari, Jatisrono, Senin (21/1/2019).

Waktu itu, ungkap dia, sedang tren modified cassava flour (mocaf). Ia lalu mencoba membikin cookies berbahan mocaf yang dibeli dari warga sekitar pabrik. Namun, hasilnya tak memuaskan. Kualitas rasa berubah-ubah dan kadang masih tercium aroma khas gaplek.

Yadi pantang menyerah. Ia terus berusaha menemukan spesifikasi mocaf yang sesuai keinginannya. “Saya berulang kali gagal. Mungkin 50-an kali lebih,” ujar dia.

Suatu hari, ia bertemu dengan seorang dosen Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Slamet Widodo, yang selama 10 taun meneliti mocaf. Mocaf diolah dari hasil fermentasi singkong atau manihot utilissima. Dari Slamet, Yadi mendapatkan spefisikasi terbaik mocaf yang dibutuhkannya.

Contoh mocaf itu ia bawa ke pabrik mocaf di Karanganyar. Dari 3-4 kali pengiriman sampel, Yadi akhirnya mendapatkan mocaf dengan kualitas yang sama seperti yang ditunjukkan Slamet.

“Saya mulai bikin Inagiri. Modal saya udah habis-habisan waktu itu buat uji coba itu. Ternyata respons pasar luar biasa,” beber dia, semringah.

“Sekarang pelanggan terpaksa harus preorder dulu dan pesanan dikirim sekitar lima hari kemudian,” sambung Yadi.

Ia lalu berinovasi soal kemasan dan teknik pemasaran secara digital. Ia tak lagi menjual ke toko-toko dengan sistem konsinyasi, tetapi dijual secara dalam jaringan (daring) dengan kemasan isi bersih 100 gram.

“Pas baru nemu resepnya, saya sempat diajak ke Rusia oleh Kedutaan Indonesia di sana. Waktu itu belum sempurna, tapi saya yakin ini karena gluten free,” imbuhnya.

Kini, Inagiri memiliki sejumlah varian rasa, yakni cokelat mete, cokelat kayu manis, brownies mete, dan cokelat jahe. Tak disangka, kobinasi singkong dan mete, varian cokelat mete, menjadi produk terlaris di pasaran.

Kini, produksi roti gapleknya membutuhkan sekitar dua ton mocaf per bulan. Produknya dipasarkan oleh 25 agen di seluruh Indonesia mulai dari Wonogiri, Kalimantan, hingga Sulawesi. Pada dua bulan pertamanya, omzet Inagiri menembus Rp150 juta – Rp200 juta per bulan.

Roti gaplek bikinannya pun naik kelas dari semual untuk kalangan menengah ke bawah menjadi menengah ke atas dan menjadi camilan kesukaan kaum milenial. “Gaplek yang orang bilang produk rendahan, ketika kami sentuh dengan teknik yang benar, bisa memberikan nilai tambah,” tutur dia.