Ini Untung Rugi Ikut Program Solo Great Sale

Ilustrasi tenant peserta Solo Great Sale (SGS) 2018. (Solopos/Sunaryo Haryo Bayu)
26 Januari 2019 18:30 WIB Farida Trisnaningtyas Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Sejumlah tenant yang kerap ikut menjadi peserta Solo Great Sale (SGS) menilai bulan belanja yang digelar di Kota Solo dan sekitarnya pada Februari nanti tidak terlalu berdampak pada bisnis mereka.

Mereka berharap penyelenggaraan SGS 2019 lebih atraktif dan menggencarkan promo sehingga banyak menarik minat warga khususnya dari luar Solo untuk berbelanja di Kota Bengawan.

Salah satu yang kurang merasakan dampak dari SGS adalah bisnis perhotelan. Marketing Communication Manager Novotel Ibis Solo, Tiwik Widowati, mengatakan sejak kali pertama SGS digelar, hotelnya rutin ikut serta. Namun demikian, penyelenggaran bulan belanja ini tak berdampak pada transaksi tamu yang menginap.

“Jujur, enggak ada dampak transaksi yang didatangkan dari program tersebut. Akan tetapi, memang ada benefit bagi tamu kami yang menginap adalah mendapatkan undian hadiah utama,” ujarnya kepada solopos.com, Kamis (24/1/2019).

Tiwik berharap ke depan program SGS dibikin lebih atraktif dan promo lebih luas. Menurutnya, ini bisa dilakukan lewat kerja sama salah satunya dengan travel agent untuk membikin trip khusus ke Solo.

Hal serupa diungkapkan Marcom Manager Kusuma Sahid Prince Hotel (KSPH) Solo, Tia Kristiyanti. Menurutnya, KSPH rutin ikut SGS. Namun demikian, dampak atau benefit hotel dalam event ini belum seberapa.

“Klien yang datang dan menginap dalam rangka adanya program diskon SGS ini tak seberapa. Saran kami, semoga ke depan lebih ditingkatkan lagi terutama untuk promosi ke luar daerah Soloraya,” katanya.

Begitu pula dengan penjualan komputer dan aksesori. Solo Laptop misalnya, pernah menjadi peserta SGS dua kali, yakni 2017 dan 2018. “Kami ikut dua kali, tapi untuk tahun ini tidak. Belum ada pengaruhnya dalam penjualan laptop saat kami ikut serta,” kata staf Solo Laptop, Sri Murdoko.

Hal senada diungkapkan Ketua Asosiasi Pengusaha Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional (Aptiknas) Solo, Dwi Cahyo Putranto. Pihaknya berharap promo event ini kepada masyarakat lebih dimaksimalkan.

“Saya lihat banyak masyarakat yang belum tahu dan paham mengenai promo SGS ini. Promo produk kami sudah diajukan, hanya saat SGS berjalan, belum tampil di web karena banyaknya tenant yang daftar belum semuanya diunggah,” ujarnya.

Di sisi lain, sektor yang siap mendukung program belanja ini adalah mal. Sejumlah mal di Soloraya memeriahkan bulan belanja ini dengan memberikan diskon hingga harga khusus. Rata-rata semua tenant yang ada di mal ikut berpartisipasi dalam SGS ini.

Public Relation Solo Grand Mall (SGM), Ni Wayan Ratrina, mengatakan pihaknya siap menawarkan diskon mulai dari 20% hingga 75% bagi para pengunjung saat pelaksanaan SGS.

All tenant ikut. Kami berikan diskon khusus dan promo makanan. Imbauan untuk tenant sudah kami edarkan lewat surat dan pembagian stiker,” ujarnya.

Sedangkan The Park Solo menggandeng perbankan untuk memberikan cash back voucher setiap pembelanjaan tertentu. Public Relation Staff The Park Solo, Christina Tri Mawarti, mengatakan ada berbagai diskon dari tenant selama penyelenggaraan SGS ini.

Tenant kami wajibkan ikut semua. Diskonnya antara lain buy 1 get 2,” katanya.

Sementara itu, Sekretaris SGS 2018, David R. Wijaya, mengatakan pihaknya terus menyosialisasikan SGS tak hanya di kota besar di Indonesia, tetapi juga wilayah di sekitar Soloraya yang terkoneksi dengan tol trans Jawa. Di samping itu, promosi juga gencar dilakukan melalui media sosial.

Selain itu, iming-iming hadiah menjadi daya tarik agar masyarakat berbelanja baik di pusat perbelanjaan maupun tenant lain di Solo.

“Benefitnya untuk tenant, prinsipnya kalau mereka ikut enggak rugi. Daftarnya gratis, kami promosikan juga lewat web dan media sosial. Ini event Solo, jadi sukses dan tidaknya tergantung partisipasi tenant,” paparnya.

Di sisi lain, menurutnya ada kenaikan okupansi hotel yang signifikan pada Februari sejak 2016 lalu. Hal ini merujuk pada data tingkat penghunian kamar (TPK) Badan Pusat Statistik (BPS) Solo. Pihaknya mencatat pada Februari 2016 TPK naik 4%, sementara 2017 naik 5%, dan 2018 naik 7,14% pada bulan yang sama.

“Padahal ini masuk low season, tapi okupansinya terus naik setiap tahun. Kalau dilihat dari rata-rata okupansi hotel di Jateng pada Februari itu minus. Sementara di Solo justru naik. Selain itu, ada keringanan pajak 30% untuk hotel di Solo dari Pemerintah Kota Solo,” jelasnya.