Selain Jendi, Emas Wonogiri Tersimpan di Karangtengah dan Jatiroto

Empat warga Jendi bersiap menyerahkan petisi dan surat penolakan rencana penambangan emas oleh PT Alexis Perdana Mineral kepada Dinas LHK Jateng di Semarang, Rabu (23/1/2019). (Istimewa - Walhi Jateng)
26 Januari 2019 08:00 WIB Rudi Hartono Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI -- Simpanan emas Kabupaten Wonogiri tidak hanya ada di Bukit Randu Kuning, Desa Jendi, Kecamatan Selogiri. Ada dua kecamatan lain yang juga memiliki kandungan emas.

Dua kecamatan tersebut yakni Karangtengah dan Jatiroto. Total kandungan emas di tiga kecamatan itu mencapai 1,5 juta ton.

Penjelasan proses geologi pembentukan emas yang terjadi jutaan tahun lalu di kawasan cikap bakal Wonogiri oleh Yulianto, Kasi Geologi Energi Sumber Daya Mineral dan Batu Barat (Geominerba) Cabang Dinas ESDM Wilayah Sewu Lawu, itu mempertegas hasil penelitian Pemkab dan Badan Survei Geologi, Bandung.

Hasil penelitian yang tertuang dalam Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (LPPD) 2017 menyebutkan selain di Randu Kuning, Jendi, Selogiri, emas juga tersimpan di Jatiroto dan Karangtengah. Potensi bijih yang mengandung emas di tiga kecamatan itu lebih kurang 1,5 juta ton.

Informasi yang dihimpun Solopos.com, Jumat (25/1/2019), emas di Jatiroto tersimpan di bukit Dusun Mesu, Desa Boto. Warga sekitar menyebut bukit tersebut sebagai Gunung Emas.

Sementara emas di Karangtengah terdapat di deret perbukitan Desa Purwoharjo. Bukit di Purwoharjo itu jika ditarik lurus masih satu deret dengan Gunung Emas di Boto, Jatiroto.

Adanya aktivitas penambangan emas secara tradisional di dua wilayah itu kian mempertegas hasil penelitian Badan Survei Geologi. Bahkan, penambangan di Gunung Emas masih berlangsung sampai sekarang.

Camat Jatiroto, Andika Krisnayana, mengatakan penambangan emas tradisional di Gunung Emas sudah berlangsung bertahun-tahun. Skala penambangannya kecil. Warga yang menambang hanya belasan orang.

Mereka menambang hanya sebagai pekerjaan sambilan. Pekerjaan utama mereka bertani. Meski demikian, emas yang dihasilkan warga dapat meningkatkan perekonomian penambang.

Warga penambang pernah menginformasikan kepada Andika, mereka mampu meraup pendapatan rata-rata Rp100.000/hari.

“Caranya masih tradisional. Warga menggali tanah atau batuan yang diyakini mengandung emas lalu dibawa pulang. Mereka lalu mengolahnya di rumah masing-masing,” kata Andika saat dihubungi Solopos.com.

Dia melanjutkan jarak lokasi penambangan dengan permukiman cukup jauh, yakni mencapai 200 meter. Area bukit yang ditambang cukup tinggi dan terjal. Tidak semua orang dapat mencapai bukit tersebut.

Namun, bagi warga penambang lintasan itu bukan masalah berarti meski harus berjalan kaki kerena sudah terbiasa. "Sampai sekarang tidak ada warga nonpenambang yang komplain adanya penambangan,” imbuh Andika.

Camat Karangtengah, Sunarto, meyakini hasil penelitian Badan Survei Geologi benar adanya. Emas tersimpan di perbukitan kawasan Desa Purwoharjo. Dahulu ada penambangan emas tradisional di salah satu bukit di Dusun Ngijo.

Bahkan, saat itu juga ada penambangan galena atau timbal. Informasi tersebut mendukung hasil penelitian Badan Survei Geologi yang menerangkan Wonogiri menyimpan potensi galena yang cukup besar.

Menurut hasil penelitian, selain Karangtengah, galena juga terdapat di Tirtomoyo dan Kismantoro. Potensi galena di tiga wilayah itu mencapai 528.933 ton. Namun, aktivitas penambangannya sekarang ini sudah tidak ada.

“Hampir semua dusun di Purwoharjo ada bukit. Selain Ngijo, bukit juga ada di Nampul, Ngandong, Gading, Kitren, dan sebagainya. Ada emasnya semua atau tidak, perlu ada penelitian lebih lanjut,” kata Sunarto.